Hakikat dan Ruang Lingkup Ilmu Ekonomi
Istilah “ekonomi”berasal dari bahasa Yunani asal kata
“oikosnamos” atau
oikonomia” yang
artinya “manajemen
urusan rumah-tangga”, khususnya penyediaan dan administrasi pendapatan.
(Sastradipoera, 2001: 4). Namun sejak perolehan maupun penggunaan kekayaan
sumberdaya secara fundamental perlu diadakan efesiensi termasuk pekerja dan
produksinya, maka dalam bahasa modern istilah ‘ekonomi’ tersebut menunjuk
terhadap prinsip usaha maupun metode untuk mencapai tujuan dengan alat-alat
sesedikit mungkin
●Menurut Albert L. Meyers ilmu
ekonomi adalah ilmu yang mempersoalkan kebutuhan dan pemuasan kebutuhan manusia.
Kata kunci
dari definisi ini adalah; pertama, tentang “kebutuhan” ⎯ yaitu suatu keperluan manusia terhadap barang-barang
dan jasa-jasa yang sifat dan jenisnya sangat bermacam-macam dalam jumlah yang
tidak terbatas. Kedua, tentang” pemuas kebutuhan” yang memiliki
ciri-ciri “terbatas” adanya. Aspek yang kedua inilah menurut Lipsey (1981: 5)
yang menimbulkan masalah dalam ekonomi, yaitu karena adanya suatu kenyataan
yang senjang, karena kebutuhan manusia terhadap barang dan jasa jumlahnya tak
terbatas, sedangkan di lain pihak barang-barang dan jasa-jasa sebagai alat
pemuas kebutuhan sifatnya langka ataupun terbatas. Itulah sebabnya maka manusia
di dalam hidupnya selalu berhadapan dengan kekecewaan maupun ketidakpastian.
●J.L. Meij mengemukakan bahwa ilmu
ekonomi adalah ilmu tentang usaha manusia ke arah kemakmuran.
●Samuelson dan Nordhaus mengemukakan
“Ilmu ekonomi merupakan studi tentang perilaku orang dan masyarakat dalam
memilih cara menggunakan sumber daya yang langka dan memiliki beberapa
alternatif penggunaan, dalam rangka memproduksi berbagai komoditi, untuk
kemudian menyalurkannya baik saat ini maupun di masa depan kepada berbagai
individu dan kelompok yang ada dalam suatu masyarakat.
Kesimpulan : pada hakikatnya ilmu ekonomi itu
merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya dalam mencapai kemakmuran
yang diharapkan, dengan memilih penggunaan sumber daya produksi yang sifatnya
langka/terbatas itu.
Dengan kata
lain yang sederhana bahwa ilmu ekonomi itu merupakan suatu disiplin tentang
aspek-aspek ekonomi dan tingkah laku manusia. Secara fundamental dan historis,
ilmu ekonomi dapat dibedakan menjadi dua, yakni ilmu ekonomi positif dan
normatif (Samuelson dan Nordhaus, 1990:9). Jika ilmu ekonomi positif hanya
membahas deskripsi mengenai fakta, situasi dan hubungan yang terjadi dalam
ekonomi. Sedangkan ilmu ekonomi normatif membahas pertimbangan-pertimbangan
nilai dan etika, seperti haruskan sistem perpajakan diarahkan pada kaidah
mengambil dari yang kaya untuk menolong yang miskin? Lebih jelasnya
Sastradipoera, 2001: 4, mengemukakan. Ilmu ekonomi positif merupakan
ilmu yang hanya melibatkan diri dalam masalah ‘apakah yang terjadi’ Oleh karena
itu ilmu ekonomi positif itu netral terhadap nilai-nilai. Artinya ilmu ekonomi
positif itu ‘bebas nilai’ (value free atau wetfrei)…hanya
menjelaskan ‘apakah harga itu’ dan ‘apakah yang akan terjadi jika harga itu
naik atau turun’ bukan ‘apakah harga itu adil atau tidak’…Ilmu ekonomi
normative, bertentangan dengan ilmu positif, ilmu ekonomi normatif
beranggapan bahwa ilmu ekonomi harus melibatkan diri dalam mencari jawaban atas
masalah ‘apakah yang seharusnya terjadi’. Esensi dasar ilmu ekonomi adalah
pertimbangan nilai (value judgment). Seorang ekonom penganut etika puritan
egalitarianisme, Gunnar Myrdal (1898-1987) lebih suka menyebutnya ‘ilmu ekonomi
institusional’. Ilmu ekonomi sebagai bagian dari ilmu sosial, tentu berkaitan
dengan bidang-bidang disiplin akademis lainnya, seperti ilmu politik,
psikologi, antropologi, sosiologi, sejarah, geografi, dan sebagainya. Sebagai
contoh kegiatan-kegitan politik seringkali dipenuhi dengan masalah-masalah
ekonomi, seperti kebijaksanaan proteksi terhadap industri kecil, undang-undang
perapajakan, dan sanksi-sanksi ekonomi. Ini artinya bahwa kegiatan ekonomi
tidak dapat dipisahkan dari kegitan-kegiatan politik (Abdulah, 1992: 6). Sebagai
disiplin yang mengkaji tentang aspek ekonomi dan tingkah laku manusia, artinya
juga mengkaji peristiwa-peristiwa ekonomi yang terjadi di dalam masyarakat. Dan
perlu diketahui, bahwa mengkaji peristiwa-peristiwa ekonomi, tujuannya adalah
berusaha untuk mengerti hakikat dari peristiwaperistiwa tersebut yang
selanjutnya untuk dipahaminya.
Ilmu ekonomi
juga memiliki keterbatasan-keterbatasan yang dimilikinya. Walaupun kita ketahui
dalam ilmu ini telah digunakan pendekatan-pendekatan kuantitatif-matematis,
tetapi pendekatan-pendekatan tersebut tidak dapat menghilangkan
keterbatasan-keterbatasannya yang melekat pada ilmu ekonomi sebagai salah satu
cabang ilmu sosial. Menurut Abdullah, (1992: 8), keterbatasanketerbatasan
tersebut mencakup: (1) Objek penyelidikan ilmu ekonomi tidak dapat
dilokalisasikan. Sebagai akibatnya kesimpulan atau generalisasi yang diambilnya
bersifat kontekstual (akan terikat oleh ruang dan waktu). (2) Dalam ilmu
ekonomi manusia selain berkedudukan sebagai subjek yang menyelidiki, juga objek
yang diselidiki. Oleh karena itu hasilpenyelidikannya yang berupa kesimpulan
ataupun generalisasi, tidakdapat bersifat mutlak, di mana unsure-unsur
subjeknya akan mewarnaikesimpulan tersebut.(3) Tidak ada laboratorium untuk
mengadakan percobaan-percobaan. Sebagai akibatnya ramalan-ramalan ekonomi
sering kurang tepat. (4) Ekonomi hanya merupakan salah satu bagian saja dari
seluruh program aktivitas di suatu negara. Oleh karena itu apa yang
direncanakan (exante) dan kenyataannya (ex-post) sering tidak
sejalan.
Dewasa ini
ilmu ekonomi telah berkembang jauh melebihi ilmu-ilmu sosial lainnya yang
terbagi-bagi dalam beberapa bidang kajian seperti:
Ruang lingkup ilmu ekonomi:
1. Ekonomi
Lingkungan.
Bidang
kajian ’ekonomi lingkungan’(environmental economics) ini bermula dari
tulisan Gray (1900-an), Pigou (1920- an), dan Hotelling (1930-an), akan tetapi
baru mncul sebagai studi koheren pada tahun 1970-an, yakni ketika revolusi
lingkungan mulai terjadi di berbagai Negara (Pearce, 2000: 300). Selanjutnya,
jika ditinjau dari substansinya, terdapat tiga unsur pokok dalam ekonomi
lingkungan, yakni; Pertama, kesejahteraan manusia sedang terancam oleh
degradasi lingkungan dan penyusutan sumber daya alam. Dalam hal ini sangat
mudah untuk menunjukkan bukti konkret dari timbulnya bencana banjir yang
disebabkan oelh penggundulan hutan, pembukaan lahan untuk perumahan dan
industri, terjadinya erosi, dan sebagainya. Semuanya ini memiliki dampak bukan
saja pada kesehatan, tetapi juga secara ekonomis merugikan kehidupan manusia. Kedua,
kerusakan lingkungan disebabkan oleh penyimpangan/kegagalan ekonomi,
terutama yang bersumber dari pasar. Hal ini dapat diambil contoh, bahwa karena
orientasi produk dan profit, tidak sedikit beberapa industri yang mengabaikan
analisis dampak lingkungan yang merugikan (externality) bagi masyarakat
luas. Begitu juga banyak industri-industri global yang menempatkan
pabrik-pabrik dari negara maju ke hutanhutan dan persawahan di Negara
berkembang. Ketiga, solusi kerusakan lingkungan harus mengoreksi unsur-unsur
ekonomi sebagai penyebabnya. Seperti halnya dengan kebijakan subsidi, relokasi
industri, dan sebagainya, yang kiranya merusak lingkungan, harus segera
dihentikan. Selain itu, jika ativitas ’destruktif’ terselubung yang merugikan
itu sulit dihentikan, perlu ada penerapan pajak ekstra atau penerbitan lisensi
khusus demi merendam kegiatan tersebut. Langkah ini pernah dilakukan di Amerika
Serikat yang menerbitkan lisensi polusi dan lisensi memancing, yang ternyata
cukup efektif mengatasi masalah tersebut (Pearce, 2000:300).
2. Ekonomi
Evolusioner
Merupakan
bidang kajian ekonomi yang menjelaskan naik turunnya pertumbuhan ekonomi dan
jatuh bangunnya perusahaan-perusahaan, kota-kota, kawasan dan negara, yang
mencerminkan bahwa evolusi selalu beroperasi pada tingkat yang berlainan dengan
tingkat kecepatan yang berbeda-beda. Dan, hal inilah yang menjadi latar
belakang munculnya bidang-bidang baru kegiatan ekonomi (Metcalfe, 2000: 324).
Dengan demikian selalu dipertanyakan mengapa dan bagaimana perekonomian dunia
berbah, sehingga tinjauannya bersifat dinamis, untuk menangkap keragaman
perilaku yang memperkaya perubahan sejarah. Tema-tema inilah yang sering
dibicarakan dalam sejarah (Landes, 1968; Mokyr, 1991), yang semuanya bertolak
dari suatu mekanisme yang sama, namun menentukan pula keragaman perilaku ekonomi.
Ekonomi evolusioner, juga merupakan entitas-entitas yang memiliki berbagai
karakteristik atau ciri perilaku, yakni; stabilitas kelangsunan perilaku
dari waktu ke waktu, sehingga kita dapat mengaitkan ciri-ciri perilaku
di masa mendatang dengan yang ada pada saat ini. Dengan dengan demikian inersia
(inertia) merupakan elemen pengikat penting serta tampak jelas bahwa
evolusi tidak dapat berlangsung di dunia di mana individu-individu atau
organisasinya berperilaku secara acak/random. Begitu juga dalam kajian mengenai
sumber keragaman perilaku ekonomi, para ahli lebih menaruh perhtian pada
pengaruh teknologi, organisasi, dan manajemen berdasarkan pemahaman bagaimana
suatu tindakan dilangsungkan sehingga memunculkan ciri-ciri perilaku yang
menguntungkan. Kemudian timbul pertanyaan; apakah evolusi itu mengandung
rasinalitas?. Di sini nampaknya tidak. Sebab dalam dunia manapun, di mana
pengetahuan dihargai cukup mahal serta kapasitas komputasional senantiasa
terbatas, maka kita tidak memiliki pijakan yang layak untuk mengupayakan
optimisasi secara pasti, sebagai pedoman guna menilai perilaku. Walaupun tidak
disangkal lagi bahwa individu senantiasa mencari hasil yang terbaik dari
serangkaian pilihan yang ada, akan tetapi kalkulasi yang dipergunakannya mungkin
saja bersifat lokal, dan tidak bersifat global. Hal nilah yang merupakan sumber
keragaman perilaku tersebut (Metcalfe, 2000: 324).
.3. Ekonomi
Eksperimental
Bidang
ekonomi eksperimental pada mulanya merupakan hasil-hasl studi perilaku pilihan
individu, terutama ketika para ekonom memusatkan perhatiannya pada teori-tori
mikroekonomi. Teori tersebut bertumpu pada preferensi-preferensi individu, di
mana mereka menyadari bahwa bidang tersebut sulit dipelajari dalam lingkungan
alamiah, sehingga dirasakan perlunya merumuskan sarana laboratorium. Sebagai
pengujian awal formal atas teori-teori pilihan individu (individual choice),
dapat dtemukan pada tulisan Thurstone dalam The Indifference Function (1931)
yang menggunakan teknik-teknik eksperimental. Kemudian didukung pula oleh teori
harapan kepuasan (expected utility theory) mengajukan
prediksi-prediksi lebih gamblang, maka pada tahun 1950 Melvin Dresher dan
Merrill Flood melakukan eksperimen awal secara formal dilaksanakan. Ternyata
teori ini memang cocok untuk mempelajari perilaku, kendati masih ada
penyimpangan. Selain itu, teori ini juga diterapkan pula pada studi tentang
pengadaan barang publik, yang dilakukan secara survey oleh Ledyard dalam Publik
Goods: a survey of experimental research tahun 1995 (Roth, 2000: 332).
Sebagai eksperimen awal tentang hal ini dilaukan oleh Thomas Schelling dalam
karyanya The Strategy of Conflict (1960). Eksperimen in sangat berguna
untuk mengisolasikan dampak-dampak aturan main tertentu yang harus diorganisir
pasar. Tentang kajian umum mengenai ilmu ekonomi eksperimental dan ulasannya
tentang sejarah dan perkembangannya, telah dimuat dalam karya Roth
”Introduction to experimental ecomics” (1950). Begitu juga Sunder dalam Experimental
asset markets: a survey (1995), yang menyoroti pasar-pasar komoditi,
seperti; pasar ang dan asar modal, di mana informasi memegang peranan sedemikan
penting. Pendeknya, ’ilmu ekonomi eksperimental’ kini telah menjadi perangkat
riset yang mapan bagi perkembangan ekonomi secara umum (Roth, 2000: 334).
4. Ekonomi
Kesehatan
Ilmu ekonomi
(health economics) kesehatan berusaha melakukan analisis terhadap
input-input perawatan kesehatan, seperti pembelanjaan dan tenaga kerja,
memperkerikan dampak-adampaknya pada hasil akhir yang diinginkan, yakni
kesehatan masyarakat. Sedangkan tujuannya ilmu ekonomi kesehatan tersebut adalah
menggeneralisasikan aneka informasi mengenai biaya dan keuntungan dari
cara-cara alternatif mencapai kesehatan dan tujuan-tujuan kesehatan (Maynard,
2000: 427). Dalam relaitasnya, evaluasi mengenai perawatan kesehatan itu jarang
dilakukan baik yang bersifat publik (pemerintah) maupun pribadi (misalnya
individu pembuat keputusan dan anggota keluarganya).
Bahkan
Cochrane dalam tulisannya yang berjudul Effectiveness and Efficiency (1971)
mengeluhkan kebiasaan buruk tersebut dengan mengemukakan: ”hampir semua terapi
perawatan kesehatan, tidak pernah dievaluasi secara ’ilmiah’. Maksud ’ilmiah’
di sini adalah bahwa aplikasi ujicoba terkontrol yang sifatnya random oleh
pelaksana terapi terhadap kelompok eksperimental pasienyang diambil secara
acak. Serta sebuah konsep terapi alternatif sebagai pembandingnya. Jika ada
perbedaan signifikan antara hasil terapi pada kelompok kontrol, berarti dampak
relatif dari terapi tersebut benar-benar berpengaruh maupun bermakna.
5.Ekonomi
Institusional.
Ekonomi institusional
(institutional economics) merupakan studi tentang sistem-sistem sosial
yang membatasi penggunaan dan pertukaran sumber daya langka, serta upaya-upaya
untuk menjelaskan munculnya berbagai bentuk pengaturan institusional yang
masing-masing mengandung konsekuensi tersendiri terhadap kinerja ekonomi
(Eggertsson, 2000: 501). Lahirnya ilmu ekonomi institusional ini bertolak dari
asumsi-asumsi:
1. Kontrol yang lemah akan mendorong
pemborosan dan pemanfaatn sumber daya secara semberono.
2. Kontrol yang tertib akan
menurunkan niat curang dan memperkecil biaya transaksi yang selanjutnya memacu
spesialisasi produksi dan investasi jangka panjang.
3.
Pemilahan kontrol sosial mempengaruhi distribusi kekayaan.
4.
Kontrol organisaional mempengaruhi pilihan organisasi ekonomi.
5. Kontrol bisa secara langsung
mengatur pemakaian sumber daya ke sektor-sektor yang dianggap paling tepat.
6. Struktur kontrol mempengaruhi
pengembangan jangka panjang sistem ekonomi karena struktur itu mempengaruhi
nilai relatif investasi dan jenis-jenis proyek yang akan diutamakan.
Ditinjau
dari usianya, ilmu ekonomi institusional tersebut relatif baru, karena secara
formal baru berdiri sejak tahun 1980, kendati perintisannya jauh dilakukan pada
masa-masa sebelumnya. Coase dalam The Nature of the Firm (1937),
dan The Problem of Social Cost (1960), tentang biaya transaksi; Alchian
dalam Some economics of property (1961) tentang hak cipta. Padatahun
1980-an inilah upaya-upaya pengembangan teori ekonomi umum yang baku tentang
institusi memperoleh momentumnya. Penyempurnaan-penyempurnaan pendekatan
standar dalam ilmu ekonomi telah berhasil dilakukan, bersamaan dengan munculnya
ekonomi neo-institusdional yang mencakup berbagai hal penting yang semula tidak
termasuk dalam endekatan konvensioanl. Beberapa modifikasi tersebut telah
diterima sebagai bagian dari aliran utama ilmu ekonomi serta cabang-cabangnya
seperti; studi organisasi industri seperti yang ditulis Milgram dan Roberts,
1992; dan ekonomi hukum yang ditulis Posner, 1992.
6. Ekonomi
Matematik.
Ilmu ’ekonomi matematik’ (mathematical economics)
mulai berkembang sejak tahun 1950-an. Sebelum terjadi formalisasi ekonomi
matematika dan sebelum dikenal teknik-teknik canggih dalam analisis matematika
ekonomi tersebut terutama bertumpu pada teknik-teknik analisis grafik
dan presentasi. Memang pada tingkat tertentu sangat efektif, tetapi
teknikteknik tersebut juga dibatasi leh karakter dua dimensional dari
selembar kertas. Selain itu juga, Selain itu juga, teknik-teknik grafik
dapat mengemukakan asumsi-asumsi implicit yang signifikansinya mungkin
tidak kentara atau sangat sulit dimengerti (Hughes, 2000: 630). Tetapi
setelah tahun 1950-an, terutama yang ditandai oleh arus perpindahan
ahli-ahli matematika menjadi akademisi ekonomi (seperti Kenneth Arrow,
Gerard Debreu, Frank Hahn, Werner Hildenbrant), maka ilmu ekonomi matematik-pun
menjadi berkembang dengan pesat sebagai suatu disiplin ilmiah. Ditinjau
dari substansinya dalam ekonomi matematik tersebut, mula-mula digunakannya
teori ekuasi simultan (simultaneous equations) oleh Leon Walras,
untuk membahas problem ekuilibrium dalam beberapa pasar yang saling berhubungan
dengan dignakannya kalkulus oleh Edgeworth untuk menganalisis perilaku
konsumen.
Beberbagai
permasalahan ini tetap berada pada inti ekonomi matematika modern,
kendati teknik-teknik matematematika yang diterapkan telah berubah
seluruhnya. Analisis ekuilibrium umum telah menjadi sangat bergantung pada
perkembangan modern dalam tipologi dan analisis fungsional, sehingga pembagian
bidang antara tipe ekonomi matematika yang cukup abstrak dengan matematika
murni, hampir tidak jelas sama sekali. Kemudian substansi lainnya adalah
teori perilaku konsumen atau produsen, individual mendapatkan manfaat dan
kemajuan melalui teori program matematika dan teori analisis cembung atau
covex analysis (Hughes, 2000: 631). Sebagai implikasinya hasil ari
penerapan kalkulus digolongkan pada suatu teori umum yang didasarkan
pada konsep fungsi nilai maksimum/minimum, yaitu suatu fungsi laba
maupun biaya untuk produsen. Hal ini merupakan suatu fungsi kegunaan
atau pembelanjaan tidak langsung bagi konsumen.
Dengan
demikian teori ini menggali hasil dualitas yang menandai berbagai
masalah maksimalisasi dan minimalisasi yang saling berhubungan, yang dapat
diberi interpretasi ekonomi langsung. Seperti halnya kumpulan ’harga-harga bayangan’
dengan berbagai hambatan yang membatasi berbagai berbagai pilihan yang
layak. Pendekatan terhadap teori konsumen dan produsen tersebut mempunyai
implikasi–implikasi empiris yang penting dan dapat diuji.
.7. Ekonomi
Sumber Daya Alam
Ilmu ekonomi
sumber daya alam (natural resource economics), merupakan bidang ekonomi yang
mencakup kajian deskriptif dan normatif terhadap alokasi berbagai sumber daya
alam (yaitu sumber daya yang tidak diciptakan melalui kegiatan manusia,
melainkan disediakan oleh alam). Beberapa masalah penting dalam hal ini
berkaitan dengan jumlah sumber tertentu yang bisa atau harus ditransformasikan
dalam proses-proses ekonomi, dan keseimbangan dalam pemanfaatan sumber daya
antara generasi sekarang dan yang akan datang (Sweeney, 2000: 697).
8. Ekonomi
Pertahanan
Ekonomi
pertahanan (defence economic), merupakan studi tentang biaya-biya
pertahanan yang mengkaji masalah pertahanan dan erdamaian dengan menggunakan
analisis dan metode ekonomi yang meliputi kajian mikroekonomi dan makroekonomi
seperti optimiasi statis dan dinamis, teori-teori pertumbuhan, distribusi,
perbandingan data statistik dan ekonometrik (penggnaan statistika model
ekonomi). Sedangkan pelaku-pelaku dalam studi ini antara lain, Menteri
Pertahanan, birokrat, kontraktor pertahanan, anggota parlemen, bangsa-bangsa
yang bersekutu, para gerilyawan, teroris dan pemberontak. Bidang ini berkembang
pesat setelah Perang Dunia II, yang topik-topiknya mencakup; perlombaan
senjata, studi aliansi dan pembagian beban, kesejahteraan, penjualan senjata,
kebijakan pembelian senjata, pertahanan dan pembangunan, industri senjata,
persetujuan embatasan senjata, dampak ekonomis dari suatu perjanjian, evaluasi
usulan perlucutan senjata, pengalihan industri pertahanan, dan sebagainya.
Ketka
terjadi Perang Dingin Blok barat dan Timur, pehatian ekonomi pertahanan umumnya
tertuju pada masalah-masalah beban pertahanan dan dampaknya terhadap pertumbhan
ekonomi. Sedangkan pada pasca Perang Dingin, para ekonom pertahanan memusatkan
perhatian pada konversi perindustrian militer, aspek sumber daya persenjataan,
biaya pemeliharaan pasukan penjaga perdamaian, dan pengukuran keuntungan
perdamaian.
B. Metode
Ilmu Ekonmi
Seperti yang
telah dikemukakan di atas bahwa ilmu ekonomi secara sedehana merupakan uapaya
manusia untuk pemenuhan kebutuhannya yang bersifat tak terbatas dengan alat
pemenuhan kebutuhan berupa barang dan jasa yang bersifat langka serta mempunyai
kegunaan altrnatif. Untuk dalam cara pemenuhan kebutuhan itulah berkaitan
dengan metode-metode dalam ilmu ekonomi tersebut. Adapun metode-metode yang
digunakan dalam ilmu ekonmi,menurut Chaurmain dan Prihatin (1994: 14-16)
meliputi:
1. Metode Induktif; yaitu
metode dimana suatu keputusan dilakukan dengan mengumpulkan semua data iformasi
yang ada di dalam realitas kehidupan. Realita tersebut dalam setiap unsur
kehidupan yang dialami individu, keluarga, masyarakat local dan sebagainya
mencoba dicari jalan pemecahan sehingga upaya pemenuhan kebutuhannya tersebut
dapat dikaji secara secermat mungkin. Sebagai contoh upaya menghasilkan dan
menyalurkan sumber daya ekonomi. Upaya tersebut dilakukan sedemikian rupa
sehingga sampai diperoleh barang-barang dan jasa-jasa yang dapat tersedia pada
jumlah, harga, dan waktu yang tepat bagi pemenuhan kebutuhan tersebut. Untuk
mencapai tujuan tersebut maka diperlukan perencanaan yang dalam ilmu ekonomi
berfungsi sebagai cara ataupun metode untuk menyusun daftar kebutuhan terhadap
sejumlah barang dan jasa yang diperlukan masyarakat.
2.
Metode Deduktif; adalah suatu metode ilmu ekonomi yang bekerja
atas dasar hukum, ketentuan atau prinsip umum yang sudah diuji kebenarannya.
Dengan metode ini ilmu ekonomi mencoba menetapkan cara pemecahan masalah,
sesuai dengan acuan, prinsip, hukum dan ketentuan yang ada dalam ilmu ekonomi.
Misalnya, dalam ilmu ekonomi terdapat hukum yang mengemukakan bahwa “jika
persediaan barang-barang dan jasa berkurang dalam masyarakat, sementara
permintaannya tetap, maka maka barang-barang dan jasa-jasa akan naik harganya”.
Bertolak dari hukum ekonomi tersebut, para ahli ekonomi secara deduktif sudah
dapat menentukan bahwa harus dijaga agar pesrsediaan barang dan jasa yang
dibutuhkan masyarakat tersebut selalu dapat mencukupi dalam kuantitas dan
kualitasnya. Boulding (1955: 12) menyebutnya sebagai metode eksperimen
intelektual (the method of intellectual experiment).
3.
Metode Matematika; adalah metode yang digunakan untuk memecahkan
masalah-masalah ekonomi dengan cara pemecahan soal-soal secara matematis. Hal
ini maksudnya bahwa dalam matematika terdapat kebiasaankebiasaan yang dimulai
dengan pembahasan dalil-dalil. Melaui pembahasan dalil-dalil tersebut dapat
dipastikan bahwa kajiannya itu dapat diterima secara umum.
4.
Metode Statistika; adalah suatu metode pemecahan masalah ekonomi
dengan cara-cara pengumpulan data, pengolahan data, analisis data, penafsiran
data, dan penyajian data dalam bentuk angka-angka secara statistik. Dari
angkaangka yang yang disajikan, kemudian dapat diketahui permasalahan yang
sesungguhnya untuk kemudian dicarikan cara pemecahannya. Sebagai contoh,
pembahasan mengenai masalah pengangguran. Dalam hal ini bisa terlebih dahulu
diidentifikasi unsur-unsur yang berkaitan dengan pengangguran, misalnya;
data-data perusahaan, data-data tenaga kerja yang yang terdidik/kurang
terdidik, jenis dan jumlah lapangan kerja yang trsedia, jumlah dan tingkat upah
yang ditawarkan perusahaan, temapat perusahaan beroperasi, maupun rata-ratempat
tinggal para calon pekerja. Dari data yag tekumpul tersebut, seorang ahli
ekonomi akan dapat menyusun pengolahan/analisis dan penafsiran data secara
statistik yang berhubungan dengan pemecahan masalah pengangguran tersebut. Dari
angka-angka statistic tersebut kemudian ia dapat menentukan cara-cara yang
tepat untuk membantu mengatasi masalahmasalah pengangguran secara akurat
berdasarkan tafsiran peneliti terhadap angka-angka yang disajian secara
statistik.
- Tujuan ilmu
ekonomi itu untuk: (1) mencari pengertian tentang hubungan peristiwa-peristiwa
ekonomi, baik yang berupa hubungan kausal maupun fungsional. (2) untuk dapat menguasai masalah-masalah
ekonomi yang dihadapi oleh
masyarakat. (Abdullah, 1992:7).
MASALAH POKOK EKONOMI
Dalam memenuhi kebutuhannya, manusia dihadapkan pada berbagai masalah. Hal ini
dimungkinkan karena jumlah dan macam kebutuhan manusia tidak terbatas. Masalah
pokok ekonomi yang dihadapi manusia dibedakan menjadi dua macam, yaitu masalah
bagi produsen dan konsumen.
1. Masalah ekonomi bagi produsen
Berikut masalah ekonomi yang harus dihadapi oleh produsen :
a. Barang apa yang harus diproduksi (what)
b. Bagaimana barang tersebut diproduksi (why)
c. Untuk siapa barang tersebut diproduksi (what for)
2. Masalah ekonomi yang dihadapi konsumen
Masalah pokok yang dihadapi konsumen adalah terbatasya alat pemuas, padahal
kebutuhan manusia tidak terbatas. Agar konsumen dapat memenuhi berbagai kebutuhannya
maka konsumen akan menyusun skala prioritas. Adapun hal-hal yang mempengaruhi
skala prioritas adalah tingkat pendapatan atau penghasilan, kedudukan
seseorang, dan faktor lingkungan.
SISTEM PEREKONOMIAN
Sistem perekonomian adalah sistem yang digunakan oleh suatu negara untuk
mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya baik kepada individu maupun
organisasi di negara tersebut. Perbedaan mendasar antara sebuah sistem ekonomi
dengan sistem ekonomi lainnya adalah bagaimana cara sistem itu mengatur faktor
produksinya. Dalam beberapa sistem, seorang individu boleh memiliki semua
faktor produksi. Sementara dalam sistem lainnya, semua faktor tersebut di
pegang oleh pemerintah. Kebanyakan sistem ekonomi di dunia berada di antara dua
sistem ekstrim tersebut.
Selain faktor produksi, sistem ekonomi juga dapat dibedakan dari cara
sistem tersebut mengatur produksi dan alokasi. Sebuah perekonomian terencana
(planned economies) memberikan hak kepada pemerintah untuk mengatur
faktor-faktor produksi dan alokasi hasil produksi. Sementara pada perekonomian
pasar (market economic), pasar lah yang mengatur faktor-faktor produksi dan
alokasi barang dan jasa melalui penawaran dan permintaan.
Kebutuhan adalah kegunaan yang timbul dalam diri manusia dan masyarakat
dalam bentuk tuntutan untuk memperoleh pemenuhannya. Kebutuhan dapat
dikelompokkan menjadi dua :
- Kebutuhan ekonomi adalah
kebutuhan akan barang-barang keperluan hidup yang dapat dinilai dengan
uang, misalnya makan dan minum.
- kebutuhan non ekonomi adalah
yang tidak dapat di nilai dengan uang.
Kebutuhan ekonomi pada dasarnya bersifat :
- Berbeda untuk setiap orang
maupun kelompok
- Tidak sama sepanjang waktu
- Berkembang dalam jumlah
kualitasnya
- Saling melengkapi atau saling
berlawanan
Dari segi kepentingannya, kebutuhan dibedakan :
- Kebutuhan primer adalah
kebutuhan mutlak harus dipenuhi, missal makan dan minum
- Kebutuhan sekunder adalah
kebutuhan yang harus dipenuhi supaya orang dapat hidup lebih baik,
misalnya buku bacaan
- Kebutuhan tersier adalah
kebutuhan yang bisa terpenuhi setelah kebutuhan sekunder.
Tindakan Manusia Dalam Konteks Sosial
Ekonomi adalah ilmu sosial—sebuah pembahasan
sistematis kemasyarakatan dari tindakan manusia pada suatu hubungan sosial. Ini
dicirikan dari ilmu pengetahuan sosial lain, seperti ilmu pengetahuan politik,
psikologi, dan sosiologi, oleh macam-macam aksi dan institusi kemasyarakatan
yang berkaitan dengan ini. Dengan singkat, aksi ekonomi itu mempunyai kaitan
orang-orang ketika menghadapi kelangkaan dengan membuat pilihan, dan hubungan sosial
merupakan ketentuan, hukum, dan kebiasaan yang membicarakan pilihan itu adalah
perizinan dan larangan. Kita dapat mengawali pembelajaran ekonomi, kemudian,
dengan dekat melihat pilihan dan macam-macam ketentuan yang disepakati
kelembagaan ahli ekonomi .
-Kelangkaan dan Pilihan
Kelangkaan
kelangkaan adalah kondisi dimana kita tidak
mempunyai cukup sumber daya untuk memuaskan kebutuhan.
Kelangkaan
menurut ilmu ekonomi mengandung dua pengertian, yaitu:
1)
langka; karena jumlahnya tidak mencukupi dibandingkandengan jumlah kebutuhan.
2)
langka;
karena untuk mendapatkannya dibutuhkan pengorbanan.
●Keterbatasan Sumber Daya
Sumber daya yang
sifatnya terbatas (langka) akan berdampak pada barang atau jasa yang dihasilkan
juga akan langka. Sumber daya atau faktor
produksi digunakan untuk memproduksi barang dan jasa. Dalam ilmu ekonomi
dikenal empat faktor produksi pokok, yaitu tanah (land), tenaga kerja (labour),
modal (capital), dan kewirausahaan (entrepreneur).
1. Tanah (land)
Sumber daya tanah terbatas (langka) karena bila kita
menggunakan tanah tertentu untuk bangunan, maka kita tidak dapat lagi
menggunakannya untuk lapangan sepak bola. Bila kita menggunakan tanah untuk jalan tol, maka tanah untuk pemukiman
penduduk akan berkurang. Dengan demikian, faktor produksi tanah menjadi langka
dan sangat terbatas.
2. Tenaga kerja (labour)
Dalam ilmu ekonomi tenaga kerja mencakup tenaga fisik
dan kemampuan mental yang dimiliki oleh manusia. Bila banyak tenaga kerja yang
bekerja di pabrik akan sedikit tenaga kerja di bidang pertanian. Hal ini
menandakan adanya keterbatasan tenaga kerja.
3. Modal (capital)
Jumlah capital terbatas karena kemampuan manusia untuk
menghasilkannya terbatas. Bila modal banyak digunakan untuk memproduksi lemari
es, modal untuk menghasilkan perahu, kapal terbang, dan jalan raya harus
dikurangi.
4. Kewirausahaan (entrepreneur)
Banyak produk yang tidak mampu dihasilkan karena tidak
adanya faktor penguasaha. Faktor produksi pengusaha merupakan faktor yang
sangat menentukan karena walaupun terdapat tiga faktor produksi lainnya tanpa
ada keahlian dalam mengolah pengusaha semuanya tidak akan berarti.
●Faktor-faktor Penyebab Kelangkaan
1.
Keterbatasan Jumlah Benda Pemuas Kebutuhan yang Ada di Alam
Di alam tersedia banyak benda
yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun, karena tidak
semua benda tersebut dapat segera diperbaharui, maka jumlahnya pun terbatas.
Missal, minyak bumi dan barang-barang tambang lainnya yang memerlukan waktu
beribu-ribu tahun untuk memperbaharuinya.
2.
Kerusakan Sumber Daya Alam Akibat Ulah Manusia
Penebangan hutan
yang tidak terencana dengan baik mengakibatkan hutan tersebut menjadi cepat
rusak dan gundul. Ini tentu memerlukan waktu lama untuk memperbaikinya.Contohnya,akibat
pencemaran air tidak bisa diminum.
3.
Keterbataan Kemampuan Manusia untuk Menolah Sumber Daya yang Ada.
Keterbatasan
kemampuan untuk mengolah terjadi karena kekurangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Namun, bias juga karena kekuranagn modal dan factor-faktor lain.
4. Peningkatan
Kebutuhan Manusia yang Lebih Cepat Dibandingkan dengan Kemampuan Penyediaan
Sarana Kebutuhan.
Terbatasnya benda pemuas
kebutuhan yang tersedia, jumlah dan jenis yang dibutuhkan tidak terbatas. Inti
masalah ekonomi adalah bagaimana manusia memenuhi kebutuhannya yang tak
terbatas dengan alat atau benda pemuas kebutuhan yang terbatas. Tidak semua
kebutuhan dapat dipenuhi sehingga manusia harus melakukan pilihan dari berbagai
alternative yang tersedia. Artinya, sebagian kebutuhan dapat dipenuhi, dan
sebagian lagi tidak dapat dipenuhi.
5. Bencana alam
Bencana lam
seperti gempa,banjir,tsunami merusak sumber daya barang/jasa,
Sehingga sumber
daya tersebut tidak dapat digunakan lagi.
6. Perang/konflik
Terjadinya
perang atau konflik di suatu daerah atau negara dapat menyebabkan terhambatnya
kegiatan ekonomi yang menghambat proses produksi maupun distribusi barang atau
jasa sehingga terjadilah kelangkaan.
Pilihan
Timbulnya kelangkaan membuat
individu, perusahaan, dan masyarakat secara keseluruhan tidak bisa mendapat
semua yang mereka butuhkan sehingga mereka harus membuat pilihan. Pada setiap
kegiatannya, mereka harus menentukan pilihan terbaik dari beberapa alternatif
pilihan yang telah dibuat.Pilihan-pilihan tersebut meliputi pilihan dalam
mengonsumsi dan pilihan dalam memproduksi.
1. Pilihan dalam Mengonsumsi
Pada hakikatnya kegiatan untuk membuat pilihan dapat
dilihat dari dua segi. Pertama, dari segi penggunaan sumber-sumber daya ekonomi
yang dimiliki. Kedua, dari segi mengonsumsi barang-barang yang dihasilkan.
Setiap individu harus memikirkan cara terbaik dalam menggunakan sumber-sumber
daya ekonomi yang dimilikinya. Usaha ini bertujuan untuk memaksimumkan pendapatan
yang akan dinikmatinya dengan menggunakan sumber-sumber daya ekonomi yang
dimilikinya tersebut.
2. Pilihan dalam Memproduksi
Pilihan dalam memproduksi biasanya dilakukan
perusahaan-perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa yang diperlukan
individu, perusahaan lain, dan pemerintah. Pemilik-pemilik perusahaan
menjalankan kegiatannya untuk mencari keuntungan, dan keuntungan maksimal hanya
akan didapat apabila pemilik-pemilik (pemimpin) perusahaan membuat pilihan yang
teliti atas jenis barang dan jasa yang akan dijualnya, dan jenis-jenis serta
jumlah faktor-faktor produksi yang akan digunakannya.
Biaya
peluang (opportunity cost)
Biaya peluang muncul ketika seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan dan dia
harus memilih salah satunya. Biaya peluang adalah nilai barang atau jasa yang
dikorbankan karena memilih alternatif kegiatan. Biaya peluang diukur dengan manfaat yang harus dilepas karena tidak dipilih. Konsep biaya peluang selalu dipertimbangkan pada
setiap pengambilan keputusan dalam pemenuhan kebutuhan atau melakukan kegiatan
ekonomi.
Dalam kegiatan produksi misalnya, kita harus melakukan perhitungan dengan cermat. Misalnya saja dalam meningkatkan
pendapatan nasional pemerintah meninggalkan sektor pertanian ke industri,
akibatnya adalah hilangnya kesempatan kerja bagi puluhan juta orang di sektor
pertanian untuk menunggu kesempatan kerja di sektor industri. Contoh lain
adalah bila kalian lulus SMA kemudian dihadapkan pada dua pilihan, yaitu kuliah
atau bekerja. Bila kuliah menghabiskan biaya sebesar Rp15.000.000,00 per tahun tapi bila memutuskan
bekerja di pabrik kamu bisa mendapatkan gaji total sebesar Rp20.000.000,00 selama setahun. Dengan demikian jika
kalian memutuskan kuliah maka biaya peluangnya per tahun sebesar gaji yang dikorbankan karena tidak bekerja sebesar Rp20.000.000,00.
Skala prioritas
Sumber daya yang
digunakan untuk memenuhi kebutuhan jumlahnya terbatas, sehingga terkadang uang
yang digunakan untuk memenuhi satu kebutuhan tidak dapat sekaligus digunakan
untuk memenuhi kebutuhan yang lain. Uang yang sudah digunakan untuk membeli
bakso tidak sekaligus bisa digunakan untuk membeli mie ayam karena jumlahnya
terbatas. Apabila kalian menjatuhkan pilihan pada salah satu, maka otomatis
kalian harus melepaskan kemungkinan yang lain. Di sinilah ilmu ekonomi memegang
perananannya, yaitu membantu kita melakukan pilihan terbaik. Dalam menentukan
pilihan, kebutuhan mana yang akan dipenuhi, kita harus membuat skala prioritas
untuk mengurutkan kebutuhan dari yang terpenting sampai kurang penting.
Kebutuhan yang bagi kita paling penting harus dipenuhi terlebih dahulu.
Dalam menentukan
pilihan, sikap rasional perlu dilakukan. Artinya, kalian harus selalu
menggunakan akal sehat. Pertimbangkan sebaik-baiknya antara pengorbanan yang
diberikan dengan manfaat yang diperoleh. Kebalikan dari sikap rasional adalah
irasional atau tidak rasional. Contoh sikap tidak rasional dalam memilih adalah
seorang konsumen yang berpenghasilan terbatas, namun selalu membeli
barang-barang bermerek hanya untuk mengikuti mode.
Rasional atau
tidaknya suatu pilihan tergantung pada alasan atau motif dalam melakukan
pilihan dan apakah tindakannya selaras dengan prinsip ekonomi. Bagaimanakah
tindakan yang sesuai prinsip ekonomi tersebut? Prinsip ekonomi merupakan
pedoman agar pelaku ekonomi berusaha dengan pengorbanan tertentu untuk
mendapatkan hasil maksimal atau dengan pengorbanan tertentu diusahakan kerugian
minimal.
Dalam kegiatan
konsumsi, konsumen kadang dihadapkan pada beberapa pilihan kombinasi barang
yang akan dikonsumsinya. Misalnya, Ardian dihadapkan pada membeli buku tulis
dan ballpoint. Uang yang akan dibelanjakan Ardian sejumlah Rp10.000,00.
Bila harga buku @Rp Rp2.000,00 dan harga ballpoint @Rp1.000,00, maka pilihan
kombinasi yang akan dikonsumsi Ardian adalah:
|
Pilihan Konsumsi
|
Buku
|
Ballpoint
|
|
A
|
5
|
0
|
|
B
|
4
|
2
|
|
C
|
3
|
4
|
|
D
|
2
|
6
|
|
E
|
1
|
8
|
|
F
|
0
|
10
|
Menentukan
pilihan secara rasional tidak hanya berlaku pada kegiatan konsumsi. Dalam
kegiatan produksi, seorang produsen dituntut untuk menentukan pilihan terbaik
dari alokasi sumber daya produksi seperti telah kalian pelajari pada kurve
kemungkinan produksi. Misalnya, pembuat nasi goreng harus memutuskan apakah ia
akan membuat nasi goreng berharga murah namun dengan rasa dan bahan yang
biasa-biasa saja atau ia membuat nasi goreng dengan harga mahal namun dengan
rasa dan bahan-bahan berkualitas. Dalam hal ini, pedagang tersebut harus
memerhatikan banyak faktor seperti modal yang ia miliki dan calon konsumen.
Namun pada prinsipnya, output dari proses produksi haruslah menguntungkan.
Kurva Kemungkinan Produksi
Setelah melihat kedua pengertian
biaya peluang tersebut, dapat dikatakan biaya peluang bukan hanya terdapat pada
kegiatan konsumsi, tetapi juga ada pada bagian produksi. Misalnya, seorang
pengrajin memiliki keahlian membuat sepatu dan tas. Karena keterbatasan modal,
ia harus memikirkan bagaiman mengatur produksi. Ia ingin membuat beberapa
pasang sepatu dan sejumlah tas tanpa mengecewakan pelanggan. Apa saran anda
pada pengrajin itu? Untuk mengetahui jumlah tas dan sepatu yang dapat
dihasilkan, pengrajin harus membuat tabel kombinasi seperti berikut.
|
|
|
TABEL 1.
|
|
KOMBINASI
PRODUKSI TAS DAN SEPATU MERK X
|
|
|
Kombinasi Produksi
|
Jumlah Tas
|
Jumlah Sepatu
|
|
A
|
0
|
150
|
|
B
|
40
|
145
|
|
C
|
80
|
120
|
|
D
|
115
|
90
|
|
E
|
125
|
60
|
|
F
|
130
|
0
|
|
G
|
130
|
120
|
|
H
|
40
|
90
|
|
I
|
80
|
60
|
|
Dari tabel di atas dapat dibuat
kurva kemungkinan produksi. Kurva ini menggambarkan batas kemungkinan kedua
kombinasi barang yang dapat diproduksi (production possibility). Lereng kurva
menunjukkan seluruh sumber daya digunakan untuk memproduksi suatu jenis barang
lebih banyak sementara jenis barang lainnya jelas akan berkurang.
(maaf ya
kurva tdk bisa diupload karena belum format jpeg)
Gambar Kurva Kemungkinan Produksi (production possibility curve)
Asumsi yang mendasari kurva kemungkinan produksi
antara lain:
1.
Perekonomian hanya memproduksi dua macam barang saja.
2.
Sumber produksi yang sama dapat digunakan untuk memproduksi kedua jenis barang
tersebut.
3.
Sumber yang ada dan dimiliki jumlahnya sudah tetap.
4.
Sumber yang dimiliki sudah digunakan secara efisien.
Pada kurva kemungkinan produksi di atas terlihat
beberapa hal berikut:
- Jumlah sepatu ditunjukan
pada sumbu vertical, dan jumlah tas ditunjukan pada sumbu horizontal.
- Kurva berlereng negative
menunjukan batas kombinasi yang dapat dicapai dan yang tidak dapat
tercapai
- Titik H dan I adalah kombinasi
yang dapat dicapai, tetapi tidak mengahabisakan sumber aday yang tersedia.
- Titik A, B, C, D, dan F
yang berada pada kurva yang berlereng negative menunjukan pemanfaatan
sumber daya yang efisien.
- Kombinasi A dan F merupakan
kombinasi ekstrem karena tidak menghasilkan tas dan sepatu.
- Titik G tidak dapat dipilih
atau dilakukan karena berada di luar kemungkinan produksi yang dapat
dihasilkan.
Mikro Ekonomi
Ilmu ekonomi mikro (sering juga ditulis mikroekonomi)
adalah cabang dari ilmu ekonomi yang mempelajari perilaku konsumen dan
perusahaan serta penentuan harga-harga pasar dan kuantitas faktor
input, barang, dan jasa yang diperjualbelikan. Ekonomi mikro meneliti bagaimana
berbagai keputusan dan perilaku tersebut mempengaruhi penawaran dan permintaan
atas barang dan jasa, yang akan menentukan harga; dan bagaimana harga, pada
gilirannya, menentukan penawaran dan permintaan barang dan jasa selanjutnya.
Individu yang melakukan kombinasi konsumsi atau produksi secara optimal,
bersama-sama individu lainnya di pasar, akan membentuk suatu keseimbangan dalam
skala makro; dengan asumsi bahwa semua hal lain tetap sama (ceteris paribus).
Tujuan Umum
Salah satu tujuan ekonomi mikro adalah menganalisis pasar beserta
mekanismenya yang membentuk harga relatif kepada produk dan jasa, dan alokasi
dari sumber terbatas diantara banyak penggunaan alternatif. Ekonomi mikro
menganalisa kegagalan pasar, yaitu ketika pasar gagal dalam memproduksi hasil
yang efisien, serta menjelaskan berbagai kondisi teoritis yang dibutuhkan bagi
suatu pasar persaingan sempurna.
Unit-unit analisis mikro ekonomi
Ekonomi mikro terletak pada penekanan.
Ekonomi mikro membahas perilaku unit ekonomi secara individual seperti tingkah
laku individual konsumen rumah tangga, perusahaan atau produsen, dan pemerintah
dengan unit-unitnya dalam menetukan pilihan (choice). Ekonomi Mikro juga
mempelajari bagaimana interaksi ketiga pelaku ekonomi ini dikoordinasikan oleh
kekuatan pasar.
●Rumah tangga untuk keperluan analisis ekonomi,
rumah tangga adalah sekelompok individu yang pool pendapatan mereka, milik
sendiri yang sama, dan membuat dicisions ekonomi bersama-sama.
Rumah tangga masuk pasar menjadi peran utama:
sebagai pembeli barang dan jasa untuk konsumsi dan sebagai penjual faktor
produksi. Faktor-faktor ini adalah input dasar tenaga kerja, modal, dan sumber
daya alam yang digunakan dalam memproduksi semua barang dan jasa.
●Perusahaan unit dasar kedua dari analisis ekonomi
mikro adalah perusahaan bisnis. Perusahaan membeli faktor produksi dari rumah
tangga dan menggunakannya untuk menghasilkan barang jadi dan jasa yang mereka
jual.
●Unit pemerintahan tradisional, ekonomi mikro
mempelajari interaksi rumah tangga dan perusahaan sementara memperlakukan
pemerintah sebagai sesuatu di luar bidang analisis. Dalam beberapa tahun
terakhir, bagaimanapun, telah menjadi lebih umum untuk membawa unit pemerintah
secara eksplisit dalam teori ekonomi mikro. Badan legislative dan badan
pengatur, misalnya, memang memiliki dampak besar pada produksi dan konsumsi.
Mereka pada gilirannya dipengaruhi dalam keputusan kebijakan mereka dengan
harga, tingkat produksi dan factor lain dari lingkungan ekonomi.Teori penawaran dan permintaan biasanya mengasumsikan bahwa pasar merupakan
pasar persaingan sempurna. Implikasinya ialah terdapat banyak pembeli dan
penjual di dalam pasar, dan tidak satupun diantara mereka memiliki kapasitas
untuk mempengaruhi harga barang dan jasa secara signifikan. Dalam berbagai
transaksi di kehidupan nyata, asumsi ini ternyata gagal, karena beberapa
individu (baik pembeli maupun penjual) memiliki kemampuan untuk mempengaruhi
harga. Seringkali, dibutuhkan analisa yang lebih mendalam untuk memahami
persamaan penawaran-permintaan terhadap suatu barang. Bagaimanapun, teori ini
bekerja dengan baik dalam situasi yang sederhana. Ekonomi arus utama
(mainstream economics) tidak berasumsi apriori bahwa pasar lebih disukai
daripada bentuk organisasi sosial lainnya. Bahkan, banyak analisa telah
dilakukan untuk membahas beragam kasus yang disebut “kegagalan pasar”, yang
mengarah pada alokasi sumber daya yang suboptimal, bila ditinjau dari sudut
pandang tertentu (contoh sederhananya ialah jalan tol, yang menguntungkan semua
orang untuk digunakan tetapi tidak langsung menguntungkan mereka untuk
membiayainya). Dalam kasus ini, ekonomi akan berusaha untuk mencari kebijakan
yang akan menghindari kesia-siaan langsung di bawah kendali pemerintah, secara
tidak langsung oleh regulasi yang membuat pengguna pasar untuk bertindak sesuai
norma konsisten dengan kesejahteraan optimal, atau dengan membuat “pasar yang
hilang” untuk memungkinkan perdagangan efisien dimana tidak ada yang pernah
terjadi sebelumnya. Hal ini dipelajari di bidang tindakan kolektif. Harus
dicatat juga bahwa “kesejahteraan optimal” biasanya memakai norma Pareto,
dimana dalam aplikasi matematisnya efisiensi Kaldor-Hicks, tidak konsisten
dnegan norma utilitarian dalam sisi normatif dari ekonomi yang mempelajari
tindakan kolektif, disebut pilihan masyarakat/publik. Kegagalan pasar dalam
ekonomi positif (ekonomi mikro) dibatasi dalam implikasi tanpa mencampurkan
kepercayaan para ekonom dan teorinya. Permintaan untuk berbagai komoditas oleh
perorangan biasanya disebut sebagai hasil dari proses maksimalisasi kepuasan.
Penafsiran dari hubungan antara harga dan kuantitas yang diminta dari barang
yang diberi, memberi semua barang dan jasa yang lain, pilihan pengaturan
seperti inilah yang akan memberikan kebahagiaan tertinggi bagi para konsumen.
Model operasi
Diasumsikan bahwa semua perusahaan mengikuti pembuatan keputusan rasional,
dan akan memproduksi pada keluaran maksimalisasi keuntungan. Dalam asumsi ini,
ada empat kategori dimana keuntungan perusahaan akan dipertimbangkan:
• Sebuah perusahaan dikatakan membuat sebuah keuntungan ekonomi ketika
average total cost lebih rendah dari setiap produk tambahan pada keluaran
maksimalisasi keuntungan. Keuntungan ekonomi adalah setara dengan kuantitas
keluaran dikali dengan perbedaan antara average total cost dan harga.
Sebuah perusahaan dikatakan membuat sebuah keuntungan normal ketika
keuntungan ekonominya sama dengan nol. Keadaan ini terjadi ketika average total
cost setara dengan harga pada keluaran maksimalisasi keuntungan.
Jika harga adalah di antara average total cost dan average variable cost
pada keluaran maksimalisasi keuntungan, maka perusahaan tersebut dalam kondisi
kerugian minimal. Perusahaan ini harusnya masih meneruskan produksi, karena
kerugiannya akan makin membesar jika berhenti produksi. Dengan produksi terus
menerus, perusahaan bisa menaikkan biaya variabel dan akhirnya biaya tetap,
tetapi dengan menghentikan semuanya akan mengakibatkan kehilangan semua biaya
tetapnya.
Jika harga dibawah average variable cost pada maksimalisasi keuntungan,
perusahaan harus melakukan penghentian. Kerugian diminimalisir dengan tidak
memproduksi sama sekali, karena produksi tidak akan menghasilkan keuntungan
yang cukup signifikan untuk membiayai semua biaya tetap dan bagian dari biaya
variabel. Dengan tidak berproduksi, kerugian perusahaan hanya pada biaya tetap.
Dengan kehilangan biaya tetapnya, perusahaan menemui tantangan. Akan keluar
dari pasar seutuhnya atau tetap bersaing dengan resiko kerugian menyeluruh.
Kegagalan pasar Dalam ekonomi mikro, istilah “kegagalan pasar” tidak berarti
bahwa sebuah pasar tidak lagi berfungsi. Malahan, sebuah kegagalan pasar adalah
situasi dimana sebuah pasar efisien dalam mengatur produksi atau alokasi barang
dan jasa ke konsumen. Ekonom normalnya memakai istilah ini pada situasi dimana
inefisiensi sudah dramatis, atau ketika disugestikan bahwa institusi non pasar
akan memberi hasil yang diinginkan. Di sisi lain, pada konteks politik,
pemegang modal atau saham menggunakan istilah kegagalan pasar untuk situasi
saat pasar dipaksa untuk tidak melayani “kepentingan publik”, sebuah pernyataan
subyektif yang biasanya dibuat dari landasan moral atau sosial.
Empat jenis utama penyebab kegagalan
pasar adalah :
• Monopoli atau dalam kasus lain dari penyalahgunaan
dari kekuasaan pasar dimana “sebuah” pembeli atau penjual bisa memberi pengaruh
signifikan pada harga atau keluaran. Penyalahgunaan kekuasaan pasar bisa
dikurangi dengan menggunakan undang-undang anti trust.
• Eksternalitas, dimana terjadi dalam kasus dimana
“pasar tidak dibawa kedalam akun dari akibat aktifitas ekonomi didalam orang
luar/asing.” Ada eksternalitas positif dan eksternalitas negatif. Eksternalitas
positif terjadi dalam kasus seperti dimana program kesehatan keluarga di
televisi meningkatkan kesehatan publik. Eksternalitas negatif terjadi ketika
proses dalam perusahaan menimbulkan polusi udara atau saluran air.
Eksternalitas negatif bisa dikurangi dengan regulasi dari pemerintah, pajak,
atau subsidi, atau dengan menggunakan hak properti untuk memaksa perusahaan
atau perorangan untuk menerima akibat dari usaha ekonomi mereka pada taraf yang
seharusnya.
• Barang publik seperti pertahanan nasional dan
kegiatan dalam kesehatan publik seperti pembasmian sarang nyamuk. Contohnya,
jika membasmi sarang nyamuk diserahkan pada pasar pribadi, maka jauh lebih
sedikit sarang yang mungkin akan dibasmi. Untuk menyediakan penawaran yang baik
dari barang publik, negara biasanya menggunakan pajak-pajak yang mengharuskan
semua penduduk untuk membayar pda barang publik tersebut (berkaitan dengan
pengetahuan kurang dari eksternalitas positif pada pihak ketiga/kesejahteraan sosial).
• Kasus dimana terdapat informasi asimetris atau
ketidak pastian (informasi yang inefisien). Informasi asimetris terjadi ketika
salah satu pihak dari transaksi memiliki informasi yang lebih banyak dan baik
dari pihak yang lain. Biasanya para penjua yang lebih tahu tentang produk
tersebut daripada sang pembeli, tapi ini tidak selalu terjadi dalam kasus ini.
Contohnya, para pelaku bisnis mobil bekas mungkin mengetahui dimana mbil
tersebut telah digunakan sebagai mobil pengantar atau taksi, informasi yang
tidak tersedia bagi pembeli. Contoh dimana pembeli memiliki informasi lebih
baik dari penjual merupaka penjualan rumah atau vila, yang mensyaratkan
kesaksian penghuni sebelumnya. Seorang broker real estate membeli rumah ini
mungkin memiliki informasi lebih tentang rumah tersebut dibandingkan anggota
keluarga yang ditinggalkan. Situasi ini dijelaskan pertamakali oleh Kenneth J.
Arrow di artikel seminartentang kesehatan tahun 1963 berjudul “ketidakpastian
dan Kesejahteraan Ekonomi dari Kepedulian Kesehatan,” di dalam American
Economic Review. George Akerlof kemudian menggunakan istilah informasi
asimetris pada karyanya ditahun 1970 The Market for Lemons. Akerlof menyadari
bahwa , dalam pasar seperti itu, nilai rata-rata dari komoditas cenderung
menurun, bahkan untuk kualitas yang sangat sempurnakebaikannya, karena para
pembelinya tidak memiliki cara untuk mengetahui apakah produk yang mereka beli
akan menjadi sebuah “lemon” (produk yang menyesatkan).
Biaya peluang
Walaupun biaya peluang (opportunity cost) terkadang
sulit untuk dihitung, efek dari biaya peluang sangatlah universal dan nyata
pada tingkat perorangan. Bahkan, prinsip ini dapat diaplikasikan kepada semua
keputusan, dan bukan hanya bidang ekonomi. Sejak kemunculannya dalam karya
seorang ekonom Jerman bernama Freidrich von Wieser, sekarang biaya peluang
dilihat sebagai dasar dari teori nilai marjinal.
Biaya peluang merupakan salah satu cara untuk
melakukan perhitungan dari sesuatu biaya. Bukan saja untuk mengenali dan
menambahkan biaya ke proyek, tetapi juga mengenali cara alternatif lainnya
untuk menghabiskan suatu jumlah uang yang sama.
Keuntungan yang akan hilang sebagai akibat dari
alternatif terbaik lainnya; adalah merupakan biaya peluang dari pilihan
pertama. Sebuah contoh umum adalah seorang petani yang memilih mengolah
pertaniannya dibandingkan dengan menyewakannya ke tetangga. Maka, biaya
peluangnya adalah keuntungan yang hilang dari menyewakan lahan tersebut. Dalam
kasus ini, sang petani mungkin mengharapkan untuk mendapatkan
keuntungan yang lebih besar dari pekerjaan yang
dilakukannya sendiri. Begitu juga dengan memasuki universitas dan mengabaikan
upah yang akan diterima jika memilih menjadi pekerja, yang dibanding dengan
biaya pendidikan, buku, dan barang lain yang diperlukan (sebagai biaya total
dari kehadirannya di universitas). Contoh lainnya ialah biaya peluang dari
melancong ke Bahamas, yang mungkin merupakan uang untuk pembayaran cicilan
rumah.
Perlu diingat bahwa biaya peluang bukanlah jumlah dari
alternatif yang ada, melainkan lebih kepada keuntungan dari suatu pilihan
alternatif yang terbaik. Biaya peluang yang mungkin dari keputusan sebuah kota
membangun rumah sakit di lahan kosong, merupakan kerugian dari lahan untuk
gelanggang olahraga, atau ketidakmampuan untuk menggunakan lahan menjadi sebuah
tempat parkir, atau uang yang bisa didapat dari menjual lahan tersebut, atau
kerugian dari penggunaan-pengguaan lainnya yang beragam – tapi bukan merupakan
agregat dari semuanya (ditotalkan). Biaya peluang yang sebenarnya, merupakan keuntungan
yang akan hilang dalam jumlah terbesar diantara alternatif-alternatif yang
telah disebutkan tadi.
Satu pertanyaan yang muncul dari ini ialah bagaimana
menghitung keuntungan dari alternatif yang tidak sama. Kita harus menentukan
sebuah nilai uang yang dihubungkan dengan tiap alternatif untuk memfasilitasi
pembandingan dan penghitungan biaya peluang, yang hasilnya lebih-kurang akan
menyulitkan untuk dihitung, tergantung dari benda yang akan kita bandingkan.
Contohnya, untuk keputusan-keputusan yang melibatkan dampak lingkungan, nilai
uangnya sangat sulit untuk dihitung karena ketidakpastian ilmiah. Menilai
kehidupan seorang manusia atau dampak ekonomi dari tumpahnya minyak di Alaska,
akan melibatkan banyak pilihan subyektif dengan implikasi etisnya.
Penerapan ekonomi mikro
Ekonomi mikro yang diterapkan termasuk area besar
belajar, banyak diantaranya menggambarkan metode dari yang lainnya. Regulasi
dan organisasi industri mempelajari topik seperti masuk dan keluar dari firma,
inovasi, aturan merek dagang.Hukum dan Ekonomi menerapkan prinsip ekonomi mikro
ke pemilihan dan penguatan dari berkompetisi dengan rezim legal dan efisiensi
relatifnya. Ekonomi Perburuhan mempelajari upah, kepegawaian, dan dinamika
pasar buruh. Finansial publik (juga dikenal dengan ekonomi publik) mempelajari
rancangan dari pajak pemerintah dan kebijakan pengeluaran dan efek ekonomi dari
kebijakan-kebijakan tersebut (contohnya, program asuransi sosial). Ekonomi
kesehatan mempelajari organisasi dari sistem kesehatan, termasuk peran dari
pegawai kesehatan dan program asuransi kesehatan.
Politik ekonomi mempelajari peran dari institusi
politik dalam menentukan keluarnya sebuah kebijakan. Ekonomi kependudukan, yang
mempelajari tantangan yang dihadapi oleh kota-kota, seperti gepeng, polusi air
dan udara, kemacetan lalu-lintas, dan kemiskinan, digambarkan dalam geografi
kependudukan dan sosiologi. Finansial Ekonomi mempelajari topik seperti
struktur dari portofolio yang optimal, rasio dari pengembalian ke modal,
analisa ekonometri dari keamanan pengembalian, dan kebiasaan
finansial korporat. Bidang Sejarah ekonomi mempelajari
evolusi dari ekonomi dan institusi ekonomi, menggunakan metode dan teknik dari
bidang ekonomi, sejarah, geografi, sosiologi, psikologi dan ilmu politik.
Mekanisme harga
dan Sistem Pasar
Semua anggota
Masyarakat terlibat dalam dua sektor yaitu :
1. Sektor
proses produksi
2. Sektor rumah
tangga.
Transaksi
antara kedua sektor tersebut terjadi di dua pasar :
1.Pasar hasil produksi (atau pasar
output)
Di pasar
output produsen bertemu konsumen dan harga dari berbagai macam barang
ditentukan. Gerak harga-harga output ini memecahkan masalah WHAT.
2. Pasar faktor
produksi (atau pasar input).
Di pasar input,
sektor produksi berperan sebagai “konsumen” faktor produksi dan sektor rumah tangga sebagai
“penjual” faktor produksi (karena semua penduduk tinggal di sektor rumah tangga, maka semua
pemilik faktor produksi ada di sana). Harga
berbagai faktor produksi ditentukan di pasar ini. Gerak harga faktor produksi mempunyai dua fungsi:
a. Memberi petunjuk kepada produsen bagaimana mengkombinasikan
faktor-faktor produksiagar biaya produksiserendah mungkin
(masalah HOW).
b.Menunjukkan beberapa imbalan (per unit faktor produksi) yang diberikan
kepada para pemilik faktor produksi (masalah FOR WHOM).
Perlu
diperhatikan serta diingat di sini , adalah :
1.Bahwa mekanisme
harga bisa memecahkan semua itu secara otomatis. Tidak ada perencanaan
lebih dulu.
2.Masing-masing
warga masyarakat bertindak sendiri-sendiri, tetapi hasil akhir dari semua
tindakan-tindakan yang tidak terkoordinir itu akan membuat semrawutnya harga di pasaran.
Pemecahan tiga masalah ekonomi pokok dari masyarakat adalah adanya mekanisme pasar. Karena :
1.mekanisme
ini bisa memecahkan ketiga masalah ekonomi pokok yang dihadapi masyarakat
dengan biaya yang sangat murah.
2.Tidak perlu
masyarakat menggaji birokrat-birokrat untuk menghitung dan merencanakan berapa
masing-masing barang yang harus diproduksikan, bagaimana dan untuk
siapa.
Pada masyarakat industri modern,
proses produksi selalu dilakukan dengan menggunakan alat-alat, mesin dan
barang-barang modal. Akibat tersebut menimbulkan :
1.Penggunaan Barang-barang modal
dalam proses produksi menaikkan produktivitas.
2.Semakin banyak barang-barang modal
yang digunakan maka akan semakin tinggi produktivitas masyarakat tersebut.
3.Barang-barang modal dalam
masyarakat akan semakin banyak bila masyarakat tersebut tidak memakai habis
(atau tidak mengkonsumsi seluruh) barang-barang hasil produksi yang dihasilkan
tiap tahun.
4.Setiapaktivitas Produksi setiap
tahunnya harus diarahkan pada produksi barang-barang modal;
5.Barang-barang ini disisihkan untuk
ditambahkan pada stok barang-barang modal yang telah ada di dalam masyarakan
atau di investasikan.
Mekanisme harga juga mampu
memecahkan masalah penentuan berapa bagian dari hasil produksi total yang
dikonsumsikan. Masalah ini dipecahkan melalui gerakan harga faktor produksi
modal (kapital), yaitu tingkat bunga.
1.Bila tingkat bunga naik maka warga
masyarakat akan bersediamenyisihkan lebih banyak dari penghasilannya untuk
dipinjamkan (Ditabung di bank) kepada produsen-produksen ( Kredit ke
bank) untuk memperluas pabrik-pabriknya, yaitu dengan penambahan
barang-barang modal investasinya, karena mendapat imbalan berupa bunga yang
lebih tinggi.
2.Sebaliknya bila tingkat bunga
menurun maka warga masyarakat akan membelanjakan penghasilannya sebagai barang
produktif, diperjual belikan.
Keberadaan tingkat bunga akan
menentukan berapa besar konsumsi dan seberapa besarnya investasi.
karena besarnya investasimenentukan
besarnya kenaikan produktivitas.
Kenaikan produktivitas; menentukan
besarnya kenaikan prosuksi ini berarti meningkatkan produksi masyarakat yang
menimbulkan kenaikan penghasilan masyarakat.
#Maka tingkat bunga menentukan
pertumbuhan ekonomi masyarakat. Sehingga bisa dikatakan bahwa mekanisme harga
memecahkan masalah ekonomi pokok yang keempat yaitu seberapa cepat perekonomian
akan tumbuh atau masalah HOW FAST
PERENCANAAN DAN MEKANISME HARGA
Mekanisme harga dikatakan mampu
memecahkan semua permasalahan ekonomi. Namun untuk masalah-masalah ekonomi
penting tertentu, Mekanisme harga tidak bisa memecahkan permasalahan dengan
baik. Masalah-masalah Ekonomi lainya di mana mekanisme harga tidak memecahkan
masalah ekonomi dengan baik yaitu :
a.Distribusi pendapatan.
Mekanisme harga tidak selalu bisa
menjamin dipecahkannya masalah FOR WHOM secara “adil”.
b.Ketidaksempurnaan pasar
Apabila terdapat perbedaan yang
menyolok dalam hal kekuatan ekonomi antara pihak-pihak yang bertransaksi di
pasar, maka harga yang terbentuk tidak mencerminkan prioritas masyarakat secara
wajar, sehingga masalah WHAT dan HOW tidak bisa dipecahkan dengan baik.
c.Barang-barang kolektif
Ada barang-barang yang hanya bisa
disediakan secara kolektif oleh masyarakat (misalnya : keamanan, ketertiban
hukum, beberapa macam infrastruktur dan sebagainya). Harga pasar bagi
barang-barang semacam ini tidak ada, atau kalaupun ada tidak mencerminkan
kebutuhan masyarakat yang sebenarnya. Lagi, masalah WHAT untuk barang-barang
ini tidak bisa dipecahkan dengan baik oleh mekanisme harga.
d.Eksternalitas
Mekanisme pasar tidak bisa
memperhitungkan pengaruh-pengaruh tidak langsung dari kegiatan ekonomi (
misalnya, pengaruh suatu pabrik terhadap lingkungan ).
e.Pengelolaan perekonomian secara
makro
Dalam perekonomian Makro Mekanisme
pasar tidak bisa diandalkan untuk menstabilkan gejolak naik turunnya kegiatan
ekonomi nasional secara total.
Pada kelima bidang masalah ekonomi
ini, mekanisme harga tidak bisa diharapkan menyelesaikan permasalahan ekonomi
secara otomatis dengan baik, Di sini perlu tindakan-tindakan yang dirumuskan
dan dijalankan secara sadar oleh masyarakat (Negara). Tindakan-tindakan ini
disebut perencanaan dalam arti luas. Di luar bidang-bidang ini mekanisme masih
efektif.. Dalam kenyataan mekanisme harga dan perencanaan digunakan
bersama-sama, karena keduanya saling melengkapi. tentunya Dengan “porsi” yang
berbeda-beda bagi masing-masing negara dan bagi waktu yang berbeda).
PERMINTAAN PASARdan PERILAKU KONSUMEN
Sector rumah tangga sebagai konsumen di pasar output.
Akan berakibat :
1.Perilaku konsumen dalam memutuskan
berapa jumlah masing-masing barang yang akan dibeli dalam berbagai situasi.
2.Konsumen-konsumen secara
bersama-sama menimbulkan permintaan di pasar.
PENDEKATAN – PENDEKATAN DALAM
PERILAKU KONSUMEN
Hukum Permintaan, yang mengatakan bahwa “bilasesuatu
barang naik maka ceteris paribus jumlah yang diminta konsumen akan barang
tersebut turun”. Dan sebaliknya bila harga barang tersebut turun. Ceteris
paribus berarti bahwa semua faktor-faktor lain yang mempengaruhi jumlah yang
diminta dianggap tidak berubah.
Pendekatanyang dinyatakan oleh Hukum
Permintaan :
- Pendekatan marginal utility,yang bertitik tolak pada
anggapan bahwa kepuasan(atau utility) setiap konsumen bisa diukurdengan
uang atau dengan satuan lain (utility yang ber-sifat “cardinal”) seperti
kita mengukur volume air, panjang jalan atau berat dari sekarung beras.
- Pendekatan indifference curve, yang tidak memerlukan adanya
anggapan bahwa kepuasan konsumen bisa diukur; anggapan yang diperlukan
adalah bahwa tingkat kepuasan konsumen bisa dikatakan lebih tinggi atau
lebih rendah tanpa me-ngatakan berapa lebih tinggi atau lebih rendah.
PENDEKATAN MARGINAL UTILITY
Perilaku konsumen bisa diterangkan
dengan menggunakan pendekatan marginal utility sebagai berikut:
(a)Utility bisa diukur dengan uang,
dan
(b)Hukum Gossen (law of diminishing
marginal utility) berlaku, yaitu bahwa semakin banyak sesuatu barang
dikonsumsikan, maka tambahan kepuasan (marginal utility) yang diperoleh dari
setiap satuan tambahan yang dikonsumsikan akan menurun, dan
(c)Konsumen selalu berusaha mencapai
kepuasan total yang maksimum.
Perhatikan perbedaan antara kepuasan
total (total utility) dan kepuasan marjinal (marginal utility).
Pada Gambar1 marginal utility diatas
:
1.Dari konsumsi suatu barang X ,
Semakin banyak barang X yang dikonsumsikan, semakin kecil marginal utility yang
diperoleh dari barang X yang terakhir dikonsumsikan [anggapan (b) di atas].
2.Bila harga barang X adalah OPx,
maka pada tingkat konsumsi yang lebihrendah dari 0X 3, tingkat kepuasan total
(total utility) konsumen belum mencapai maksimum. Misalnya pada tingkat
konsumsi OX1, maka setiap tambahan pembelian 1 (satu) unit X akan memberikan
tambahan kepuasan (yang dinilai dengan uang) sebesar X1 B sedangkan pengorbanan
(berupa pembayaran harga) untuk 1 unit tersebut adalah hanya X1 A ( = OPx).
Jadi ada tambahan kepuasan netto
sebesar AB bila konsumen membeli lebih banyak X. Oleh sebab itu masih
menguntungkan baginya apabila ia menambah pembelian barang X.
3.Sebaliknya, pada tingkat konsumsi
lebih besar dari OX 3 maka kepuasan total konsumen juga tidak maksimum.
Misalnya pada imgkat konsumsi OX2, maka tambahan kepuasan yang diperoleh dari
pembelian 1 (satu) unit terakhir dari barang X hanya sebesar X2E, sedangkan
pengorbanan konsumen adalah sebesar X2D (= OPx); jadi
4.Akan menambah kepuasan total
konsumen bila ia mengurangi tingkat konsumsi (pembeliannya). Konsumen akan
mencapai kepuasan total yangmaksimum pada tingkat konsumsi (pembelian) di mana
pengorbanan untuk pembelian unit terakhir dari barang tersebut (yang tidak lain
adalah harga unit terakhir tersebut) adalah sama dengan kepuasan tambahan yang
didapatkan dari unit terakhir tersebut.
Kepuasan total maksimum tercapai
bila :
Penjelasannya :
1.Bila seandainya harga barang X
naik dari OPx menjadi OPx, maka untuk mencapai posisi kepuasan total yang
maksimum (atau sering disebut posisi equilibrium konsumen), konsumen akan
me-milih tingkat konsumsi (pembelian) sebesar OX4 (yang lebih kecil dari OX3).
Jadi perilaku konsumen yang dinyatakan oleh Hukum Permintaan terbukti.
2.Perhatikan bahwa dengan pendekatan
marginal utility ini, kurva Marginal Utility (yang diukur dengan uang) tidak
lain adalah kurva permintaan konsumen, karena menunjukkan tingkat pembeliannya
(atau jumlah yang ia minta) pada berbagai tingkat harga.
Untuk kasus di mana konsumen
menghadapi beberapa macam barang yang dibeli, maka posisi equilibrium konsumen
adalah :
1.Syarat ini bisa dicapai dengan
anggapan bahwa konsumen mempunyai uang (atau penghasilan atau “budget” yang
cukup untuk dibelanjakan untuk setiap barang sampai marginal utility setiap
barang sama dengan harga masing-masing barang.
2.Bila kita menganggap suatu kasus
yang lebih realistis di mana konsumen hanya mempunyai sejumlah uang yang
tertentu yang tidak cukup untuk membeli barang-barang sampai pada tingkat MU =
P untuk setiap barang, maka bisa dibuktikan bahwa dengan uang yang ter-batas
tersebut ia bisa mencapai kepuasan total yang paling tinggi bila ia
mengalokasikan pembelanjaannya sehingga dipenuhi persyaratan tersebut :
Syarat ini disebut equilibrium
konsumen dengan constraint. (Yaitu dengan pembatasan jumlah uang yang
dipunyai).
Dalam kasus banyak barang ini pun
kita bisa menunjukkan bahwa Hukum Permintaan berlaku bagi masing-masing barang
(X, Y,Z dan seterusnya).
PENDEKATAN INDIFFERENCE CURVE
Perilaku konsumen bisa pula
diterangkan dengan pendekatan Indifference curve sebagai berikut:
(a)konsumen mempunyai pola
preferensi akan baarang-barang konsumsi (misalnya X dan Y) yang bisa dinyatakan
dalam bentuk indifference map atau kumpulan dari indifference curve,
(b)konsumen mempunyai sejumlah uang
tertentu dan
(c)konsumen lelaluberusaha
mencapaikepuasan maksimum.
Definisi: Indifference curve adalah konsumsi (atau pembelian)
barang-barang yang menghasilkan tingkat kepuasanyang sama.
Asumsi: Indifference curve :
a.turun dari kiri atas ke kanan
bawah,
b.cembung ke arah origin,
c.tidak saling memotong,
d.yang terletak di sebelah kanan
atas menunjukkan tingkat kepuasan yang lebih tinggi ( tanpa perlu menunjukkan
berapa lebih tinggi, yaitu asumsi ordinal ulility)
Gambar
Perliatikan Gambar .2. di atas.
Dengan sejumlah uang ter-tentu (M) konsumen bisa membelikannya semua untuk
barang X
memperoleh sebanyak :M/Px ataumembelikannyasemua untuk
barang Y dan memperoleh M/Pyatau membelanjakan jumlah uang M tersebut untuk
berbagai kemungkinan kombinasi X dan Y seperti yang ditunjukkan oleh garis
lurus yang menghubungkan M/Pxdan M/Py
Garis ini disebut garis budget atau
budget line. Tingkat kepuasan yang maksimum dicapai bila konsumen membelanjakan
M untuk membeli sebanyak OY 1 barang Y dan OX 1 barang X, yaitu pada posisi
persinggungan antara budget line dengan indifference curve.
(Posisi ini menunjukkan posisi kepuasan yang maksimum
atau posisi equilibrium konsumen dengan constraint (M) karena I 1 adalah
Indifference curve yang tertinggi yang bisa dicapai oleh budget line tersebut;
posisi selain A hanya bisa mencapai indifference curve yang lebih rendah dari I
1).
bila harga X turun dari Px menjadi
P’x dan harga Y tetap. Maka budget line akan berayun ke kanan menjadi garisM/Py
<-> M/PxPosisi equilibrium yang baru adalah pada C.
Jadi dengan adanya penurunan harga
barang X, maka jumlah barang X yniig diminta naik dari OX 1 menjadi OX 3.
Perilaku konsumen
Menurut Hukum Permintaan terbukti.
Keunggulan pendekatan Indifference Curve dibanding
dengan pendekatan Marginal Utility, adalah :
(a) tidak perlunya menganggap Bahwa utility
konsumen bersifat cardinal,
(b) efek perubahan harga terhadap
jumlah yang diminta bisa dipecah lebih lanjut menjadi dua, yaitu efek
substitusi atau substitution effect dan efek pendapatan atau income effect.
Dari gambar di atas, efek total dari penurunan harga :
barang X dari Px menjadi P’x dapat
dipecah menjadi X1 X2 = substitution effect dan X2 X3 = income effect.
Substitution effect didalam contoh
ini adalah kenaikan konsumsi X karena adanya substitusi Y dengan X, karena
sekarang harga X relatif menjadi lebih rendah dibanding harga Y.
Income effect adalah kenaikan X,
yang (disebabkan oleh kenaikan income riil karena turunnya harga X; yaitu nilai
M secara riil naik karena Px turun.
Contoh : Apabila dengan gajiDoni Rp
100.000,00, maka doni sekarang bisa membeli 500 kg beras sedang sebelumnya
hanya 400 kg beras, karena harga beras turun dari Rp 500,00 menjadi Rp 400,00
per kg, maka daya beli Doni meningkat, atau income riil Doni meningkat,
meskipun M Doni tetap Rp 100.000,00).
Keunggulan lain dari pendekatan
indifference curve adalah bisa ditunjukkannya beberapa faktor lain yang sangat
penting yang mempengaruhi permintaan konsumen akan sesuatu barang.
Faktor-faktor ini (yang di dalam Hukum Permintaan dianggap tidak berubah, atau
ceteris paribus) adalah :
a.Penghasilan atau income
riilkonsumen. Kenaikan income riil konsumen, yang dicerminkan oleh kenaikan M
bila harga-harga barang dianggap tetap, biasanya menaikkan permintaan konsumen.
Keadaan seperti ini berlaku bagi barang-barang pada umumnya, atau barang
“normal”. Pengecualian terjadi untuk barang-barang “inferior”, di mana kenaikan
income riil menurunkan permintaan akan barang tersebut (income effect negatif).
Contoh barang inferior adalah gaplek dari rumah tangga-rumah tangga di
kota-kota. Barang inferior tidak banyak jumlahnya. Kebanyakan barang yang kita
beli adalah barang normal. Gambar berikut menggambarkan pengaruh perubahan
income terhadap jumlah barang yang diminta.
06
b. Perubahan harga barang lain.
Perubahan harga barang yang mempunyai “hubungan” ekat dengan suatu barang bisa
pula mempengaruhi permintaan akan barang tersebut. Perubahan liarga Y bisa
mempengaruhi permintaan akan barang X. Gambar 111.4. berikut enunjukkan dua
pengaruh yang berbeda dari perubahan harga Y terhadap jumlah barang X yang
diminta.
c. Selera konsumen. Perubahan selera
konsumen bisa ditunjuk-k;in oleh perubahan bentuk atau posisi dari indifference
map. I anpa ada perubahan harga barang-barang maupun income, permintaan akan
sesuatu barang bisa berubah karena perubahan selera.
Permintaan (demand function) adalah
: Jumlah suatu barang yang mau dan dapat dibeli oleh konsumen pada pelbagai
kemungkinan harga, dalam jangka waktu tertentu dengan anggapan hal-hal lain
akan tetap sama ( Cateris Paribus)
Penawaran adalah : Jumlah dari
suatu barang tertentu yang mau dijual pada pelbagai kemungkinan harga, dalam
jangka waktu (cateris paribus)
Hukum Permintaan
Kurve permintaan untuk pelbagai macam barang dan jasa
tidak semuanya tepat sama. Bahkan kurve permintaan akan barang yang sama pun
dapat berbeda menurut tempat dan waktu yang berbeda. Tetapi semua kurve
permintaan menunjukkan satu ciri yang sama, yaitu arahnya yang turun dan
kiri-atas ke kanan-bawah (downward sloping to the right). Bentuk kurve mi
menunjukkan bahwa antara HARGA (P) dan JUMLAH YANG MAU DIBELT (Qd) terdapat
suatu hubungan yang berbalikan:
–Kalau harga naik, jumlah yang mau
dibeli berkurang
–Kalau harga turun, jumlah yang mau
dibeli bertambah
Gejala mi dikenal dengan nama Hukum
Permintaan, yang dapat dirumuskan sbb.: Orang cenderung membeli lebih
banyakpada harga rendah daripadapada harga tinggi. Disehut “hukum” karena
merupakan gejala umum yang sulit dicari perkecualiannya.
Hal ini terjadi karenaHukum
permintaan menunjuk pada fakta bahwa, kalau harga suatu barang/jasa naik,
jumlah yang akan dibeli cenderung menjadi Iebih sedikit, sedang kalau harganya
turun, jumlah yang mau dibeli oleh masyarakat akan lebih banyak. Sekarang kita
her- tanya: mengapa terjadi demikian? Apa sebabnyajumlah yang mau dibeli berkurang
bila harga barang itu naik, dan bertambah bila harganya turun? Pada dasarnya
ada tiga alasan yang dapat menjelaskan gejala tsb.:
I. Pengaruh penghasilan (Income
effect)
Kalau harga suatu barang naik, maka
denganjumlah penghasilan uang yang sama orang terpaksa hanya dapat membeli
barang lebih sedikit. Sebaliknyajika harga barang tu turun, dengan penghasilan
yang sama orang dapat membeli lebih banyak dan barang ybs., (dan mungkinjuga
dan barang-barang lain pula), sebab penghasilan realnya naik.
Misalnya datam contoh di atas: pada
harga beras Rp 400-/kg, keluarga ybs. dapat membeli 50kg beras perbulan. Tetapi
kalau harga beras naik menjadi Rp 500, 1kg, denganjumlah uang yang sama rncrcka
hanya dapat membeli 40 kg beras per bulan.
Hal yang sama berlaku tidak hanya
untuk permintaan individual tetapi juga untuk permintaan pasar. Kalau harga
suatu barang naik (ceteris paribus), Iebih sedikit warga masyarakat yang mampu
membelinya dengan penghasilan mereka. Sebaliknya jika harga barang tertentu
turun (ceteris paribus), semakin banyak orang yang dulu tidak mampu membelinya
sekarang akan dapat menjangkaunya, sehingga jumlah pembeli bertambah banyak.
Hal mi disebut “income effect’:
2. Pengarub substitusi (Substitution
effect)
Jika harga suatu barang naik, orang akan
mencari barang lain yang fungsinya sama tetapi harganya lebih murah.
Penggantian mi dengan istilah teknis disebut substitusi. Maka gejala mi disebut
“substitution effect”.
3. Penghargaan subyektif (Marginal
Utility)
Andaikan seseorang hanya mernpunyai
satu pasang sepatu saja. Maka ia akan menilai sepatunya itu lebih tinggi
daripada scandainya ia mempunyai sepuluh pasang. Kalau sepatunya itu rusak ia
akan bersedia mengeluarkan uang untuk membeli sepasang sepatu yang barn, walau
harganya mahal. Sebaliknya kalau orang mempunyai sepuluh pasang sepatu, ia
tidak akan merasa kerugian besar kalau kehilangan satu pasang sepatu, dan ia
tidak begitu bersedia mengeluarkan uang untuk membeli sepatu lebih banyak lagi.
Jadi makin banyak dan satu macam barang tertentu yang telah dimiliki, makin
rendah penghargaan kita terhadap barang itu.
Tinggi-rendahnya harga yang bersedia
dibayar oleh konsumen untuk barang tertentu mencerminkan kegunaan atau kepuasan
(Marginal) yang diperolehnya dan konsumsi barang tsb. Gejala mi dikenal dengan
nama Hukum Semakin Berkurangnya Tambahan Kepuasan (Law of Diminishing Marginal
Utility — LDMU), atau Hukum Gossen ke-I.
> Persamaan fungsi permintaan
Antara HARGA (P) suatu barang dan
JUMLAH yang mau dibeli (Qd) ternyata ada hubungan fungsional yang kurang-lebih
tetap. Dikatakan jumlah yang mau dibeli merupakan fungsi dan harga. artinya:
besar-kecilnya Qd tergantung dan tinggi-rendahnya P. Hubungan tersebut secara
matematik dapat dinyatakan dalam bentuk sebuah persamaan, yang bila dilukiskan
dalam grafik menjadi kurve permintaan.
Kehanyakan kurve perrnintaan berbentuk garis
melengkung yang menyerupai hentuk hiperbola. BeHtuk umurn persamaan hiperbola
adalah:
a
y=—+ b
x
Tetapi untuk rnenyederhanakan, garis rnelengkung di
daerah yang penting dapat “didekati” dengan garis lurus. Bentuk umum persamaan
garis lurus adalah:
y = mx + b
dimana untuk kurve perrnintaan koefisien arahnya (rn =
gradien) bertanda negatif.
Sebagai contoh. dalam Gambar 1.3 dilukiskan dua bentuk
kurve permintaan, yaitu:
D : P = 200 — 2,5 Q (garis lurus)
D: P= 200 + 50 (garis
melengkung)
Q
Dalam kenyataannya tidaklah mudah
untuk memastikan bentuk dan letak kurve permintaan akan suatu barang.
Bagairnana tepatnya kurve perrnintaan dan persamaannya hanya dapat dipastikan
atas dasarpenelitian pasar dengan bantuan Statistika. Dan hcrbagai tempat dan
pada pelbagai waktu harus dikumpulkan informasi herapajumlah dan barang
tertentu yang mau dibeli oleh masyarakat pada pelbagai tingkat harga. Informasi
yang diperoleh belum tentu menghasilkan sebuah kurve permintaan yang “bagus”
seperti dalam contoh di atas. Tetapi dengan bantuan matematika dapat dihitung
garis rata-rata (garis regresi, dan diagram tebar) yang dapat “mendekati”
(mencerminkan) keadaan nyata.
08
1.2. PERUBAHAN DALAM PERMINTAAN
Inti dan pengertian permintaan yang
dibicarakan sarnpai sekarang adalah hubungan antara HARGA suatu barang/jasa dan
JUMLAH YANG DIMINTA j ika P naik, Qd herkurang; sebaliknyajika P turun, Q1 akan
bertambah: Q, herubuh sebagaiAKlBATa’ari perubahan P. Dalam kurve permintaan
hubungan tsb. kelihatan dan arah kurve yang turun ke kanan-bawah: jika harga
barang turun, akibatnyajumlah yang mau dibeli bertambah, dan kita berjalan dan
titik yang satu ke titik yang lain pada kurvc permintaan yang sama seperti
telah digambarkan itu.
Tetapi kenyataannya dapat teijadi bahwa ada perubahan
dalam jumlah yang diminta tanpa ada perubahan harga. Mungkin juga ada perubahan
harga, tetapi tidak diikuti oleh perubahan dalam jumlah yang mau dibeli. Dalam
hal mi kombinasi dan P dan Q semula ternyata sudah tidak berlaku dan dikatakan
ada perubahan dalarn permintaan (change in Demand). Bagaimana hal itu dapat
terjadi?
Ceteris Paribus
Daftar permintaan akan barang tertentu, dan kurve
permintaan yang dibuat atas dasar daftar tsb. selalu disusun dengan anggapan
‘ceteris paribus’. Maksudnya ialah:
dan berbagai faktor yang inungkin dapat mempengaruhi
permintaan masyarakat akan suatu barang, kita hanya memperhatikan huhungan
antara jumlah yang diminta dan harga barang ybs. Semua faktor lain yang mungkin
ikut mempengaruhi jumlah yang mau dibeli itu untuk sementara waktu tidak
diperhatikan dulu, atau dianggap konstan, tidak berubah.
Apa yang dianggap sama?
Faktor-faktor lain (selain harga
barang ybs.) yang ikut mempengaruhi permintaan masyarakat akan suatu barang,
(tetapi tidaklbelum diperhatikan karena dianggap sama atau tidak berpengaruh)
adalah:
1. Jumlah pembeli/konsumen
2. Besarnya penghasilan yang tersedia untuk
dibelanjakan
3. Harga barang-barang lain
4. Pengaruh musim, mode, selera, kebiasaan, perubahan
jaman, pengaruh lingkungan
5. Harapan atau pandangan orang tentang masa depan.
Dalam kenyataan jelas hal-hal tsh. tidak selalu sama
atau konstan. Maka apa yang terjadi jika satu atau lebih dan faktor-faktor tsb.
berubah?
Jika ada perubahan dalam salah satu atau lebih dan
faktor tsb., maka seluruh permintaan, yaitu kombinasi dan [harga sekian; jumlah
yang mau dibeli sekian] akan berubah juga. Jika digambarkan dalam grafik,
seluruh kurve permintaan akan bergeser menjadi kurve permintaan yang baru, yang
berbeda dan yang semula.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
permintaan:
1. Jumlah pembeli: jika jumlah pembeli suatu barang
tertentu bertambah, maka pada harga yang sama jumlah yang man diheli hcrtamhah
hanyak juga. dan kurve permintaan akan bergeser ke kanan. Hal mi dapat terjadi
misalnya karena pertambahan penduduk, perbaikan transport sehingga barang
tertentu dapat terjual di daerah lain pula, berhasilnya usaha
promosi/perikianan, dsb. Misalnya pada awal tahun pelajaran baru permintaan
akan alat-alat tulis tentu bertambah.
2. Besar penghasilan yang tersedia untuk dibelanjakan
jelas berpcngaruh sekali terhadap permintaan. Dan penghasilan yang lebih tinggi
orang akan dapat membeli lebih banyak dan segala macam barang dan jasa.
Dalam hal mi hanya ada satu
perkecualian, yaitu yang disebut inferior goods (atau juga disebut “Giffen
goods”), yaitu barang-barang yang permintaannyajustru berkurang bila
penghasilan konsumen naik. Misalnya orang miskin, yang terpaksa hanya makan
gaplek atau jagung, dengan naiknya penghasilan akan menggantikan gaplek dengan
nasi, sehingga permintaan akan gaplek/jagung berkurang. Semua barang lain
disebut ‘normal goods’ artinya barang yang pemiintaannya naik apabila
pendapatan konsumen naik.
Pengaruh perubahan penghasilan
terhadap permintaan akan suatu barang dapat diukur dan diperhitungkan, dengan
jalan membandingkan persentase kenaikan jumlah yang diminta dengan persentase
kenaikan penghasilan konsumen. mi disebut elastisitas pendapatan.
3. Harga barang-barang lain ikut mempengaruhi permintaan.
Apakah kenaikan harga barang lain itu memperbesar atau justru memperkecil
perrnintaan masyarakat akan suatu barang tertentu itu tergantung apakah barang
lain itu barang pelengkap (= komplementer), barang pengganti (= substitut) atau
barang lepas (= independent! netral).
> Barang pelengkap (komplementer)
Misalnya sepeda motor, bensin dan
oli saling melengkapi. Jika harga sepeda motor turun, maka jumlah sepeda motor
yang diininta akan bertambah. Akibatnya permintaan akan bensin bertambah pula.
Demikian pula permintaan akan oil ikut bertambahjuga.
> Barang pengganti (substitut)
Misalnya kopi dan teh, rokok merk
yang satu dan merk yang lain, kereta api dan bis malam, bis dan colt itu dapat
saling mengganti. Kalau harga karcis kereta api naik, lebih banyak orang akan
naik bis. Jadi bila harga barang yang satu naik,jumlah yang diminta dan barang
tersebut akan berkurang, tetapi jumlah yang diminta dan barang substitutnya
justru akan bertambah.
> Barang lepas (independent)
Barang independent adalah barang
yang tidak ada hubungan atau pengaruh timbal-balik satu sama lain. Apabila
harga barang lain itu naik, mungkin pendapatan real berkurang (= ada income
effect) dan hal mi secara tidak Iangsung dapat berpengaruh terhadap jumhah
barang/jasa yang diminta.
4. Musim, selera, mode, kebiasaan,
perubahan jaman, Iingkungan
sosial juga berpengaruh terhadap permintaan. Misalnya permintaan akan payung
pada awalmusim hujan. Terutama mode pakaian dapat berubah dalam waktu singkat.
Kemajuan zaman dapat menyebabkan bahwa harang yang dulu dipandang sebagai
barang mewah (radio, kaset, walk-man, komputer,jam tangan, sepeda motor, TV,
dsb.) lama-kelamaan menjadi barang yang biasa.
5. Harapan/pandangan tentang masa
yang akan datang dan
faktor-faktor psikologis lainnya dapat menyebabkan perubahan-perubahan yang
mendadak dalam
permintaan masyarakat. Misalnya desas-desus atau rasa
takut bahwa harga-harga akan naik mendorong orang untuk segera membeli banyak
(sebelum harga naik) sehingga jumlah yang diminta akan naik pada harga yang
sama.
Jadi akibat dan perubahan dalam
salah satu atau lehih dan faktortsb. di atas ialah:
suatu kombinasi yang baru antara harga dan jumlah yang
mau dibeli; berarti bahwa seluruh permintaan berubah. Jika perubahan dalam
permintaan tsb. di atas digambarkan dalam grafik, kurve permintaan semula
“bergeser” ke kanan atau ke kin menjadi kurve permintaan yang baru.
Pergeseran kurve permintaan
Bila permintaan bertambah, maka
kurve permintaan bergeser ke kanan-atas seperti pada gambar dibawah Artinya:
—Para konsumen mau membeli lebih
banyak dan suatu harang tertentu pada tingkat harga yang berlaku. Misalnya pada
harga Rp 1.000,- jumlah yang diminta bertambah dan 5 menjadi 8 satuan (dan
titik A —> E).
—Jumlah barang yang mau dibeli sama,
meskipun harga barang telah naik. Misainya harga naik dan Rp 1 .000,- menjadi
Rp 2.000,- tetapi jurnlah yang mau dibeli tetap 5 satuan (dan A —> C).
09
Perubahan Dalam Penawaran
Kurve Penawaran Tertentu selalu
digambarkan dengan Anggapan “ Cateris Paribus “ (bahwa semua faktor-faktor
lain yang mempengaruhi jumlah yang diminta dianggap tidak berubah )
Yang dianggap sama Dalam Hal ini :
1.Jumlah Produsen di Pasar
> Jika jumlah Produksen Bertambah,
penawaran total juga akan bertambah , pada tingkat harga yang berlaku, lebih
banyak barang/ jasa yang ditawarkan untuk dijual di pasaran. Atau kalau harga
pasar turun karena persaingan antara produksen tsb, jumlah yang sama mau dijual
juga meskipun pada harga yang lebih rendah.
2.Harga Faktor-Faktor Produksi
>>Bersama dengan Tehnik Produkssi,
Harga Faktor-Faktor Produksimerupakan input dalam proses produksi, menentukan
biaya produksi. Misalnya jika harga bahan baku turun, maka produksen :
–dapat menjual (menghasilkan) lebih
banyak pada tingkat harga yang sama dan /atau.
–dapat menghasilkan dan menjual
jumlah yang sama pada harga yang lebih rendah, ini berarti penawaran bertambah
dan kurve supply bergeser ke kanan kebawah.
10
Sebaliknya jika harga bahan-bahan
dan input-input lainnya naik, sehingga biaya produksi bertambah, maka :
–Jumlah barang yang sama hanya akan
dijual pada harga lebih tinggi
–Pada tingkat harga yang sama jumlah
yang ditawarkan lebih sedikit.
Ini berarti penawaran berkurang, dan
kurve supply bergeser ke kiri atas. Lihat kurve B
3.Harga Barang-barang Lain :
Jika berubah, penawaran barang
tertentu mungkin bertambah, mungkin berkurang, tergantung jenis barang dan
hubungannya satu sama lain (barang pengganti, barang pelengkap atau barang
lepas.
4.Harapan atau perkiraan para
produksen/penjual tentang masa yang akan datang.
a.Jika diperkirakan harga akan naik,
apakah para penjual segera akan menjual seluruh persediannya ? (Jawab :
Tidak,bahkan sebaliknya, banyak yang akan menahan barangnya, menunggu kenaikan
harga < dan akibatnya harga memang akan naik >
b.Jika diperkirakan harga akan
Turun, apakah para penjual tidak akan menjual seluruh persediannya ? (Jawab :
Tidak,bahkan sebaliknya, banyak yang akan menjual semua barang persediannya
selama harga belum merosot < dan akibatnya harga memang akan merosot/turun
>
Harga Pasar
–Jumlah yang mau dibeli di tunjukkan
dengan Q d
–Jumlah yang mau dijualdi tunjukkan
dengan Q s
–Berbagai kemungkinan harga di
tunjukkan dengan P
Pasar
Pengertian Pasar adalah tempat pertemuan
antara penjual dan pembeli untuk mengadakan transaksi jual beli barang.
Pengertian Pasar dalam ilmu ekonomi lebih luas
lagi yaitu Pasar mencakup keseluruhan permintaan dan penawaran, seluruh
kontak antara penjual dan pembeli untuk mempertukarkan barang dan jasa. Setiap
barang yang diperjual belikan ada pasarnya. Contoh
: ada pasar ikan, tetapi juga ada pasar rokok kretek, pasar tekstil,
pasar modal dan pasar tenaga kerja.
Fungsi Pasar adalah : sebagai mata rantai yang
mempertemukan penjual yang mempunyai barang dan menginginkan uang, dengan
pembeli yang mempunyai uang dan menginginkan barang. Penjual dan pembeli tidak
bertemu muka , tetapi dapat juga melalui surat atau telepon.
Pasar dalam Ekonomi Mikro mempunyai tiga fungsi penting. Pertama, pasar
berfungsi untuk menyebarkan informasi agar sumberdaya yang terbatas jumlahnya
dapat dipakai pada tempat yang paling efisien dan menguntungkan. Pasar
menyampaikan informasi ini kepada pelaku ekonomi melalui harga barang dan jasa.
Kedua, pasar berfungsi untuk memberikan insentif kepada pelaku ekonomi.
Konsumen akan menggunakan sumber daya (uang) yang terbatas dengan hati-hati
agar mendapatkan kepuasan yang maksimal dari uang tersebut. Demikian juga
produsen akan terdorong meningkatkan produksi dan menekan biaya produksi agar
bisa meraih keuntungan yang tinggi. Keuntungan adalah insentif yang sangat kuat
dibelakang aktifitas manusia. Ketiga, pasar juga mendistribusikan pendapatan
sesuai dengan usaha dan ketrampilan yang dimiliki oleh setiap individu. Bisnis
yang berani mengambil resiko dan membuat keputusan dengan benar besar
kemungkinan akan mendapatkan keuntungan yang tinggi dibandingkan dengan bisnis
yang salah mengambil keputusan dan tidak berani mengambil resiko. Pada ekonomi
mikro pasar juga dibedakan atas dua kutub ekstrim yaitu pasar bersaing sempurna
(perfectly competitive market) dan pasar monopoli (monopoly market) berdasarkan
sejauh mana para pelaku pasar bisa mengontrol harga barang.
Pasar Sempurna adalah apabila semua pihak di pasar tersebut
mengetahui seluruh keadaan
pasar yaitu : harga-harga yang berlaku, jumlah-jumlah yang ditawarkan.Pasar persaingan sempurna terjadi apabila jumlah pembeli
lebih banyak dan jumlah penjual juga lebih banyak, yang semuanya menawarkan
barang yang sifatnya samaatau homogen. Misalnya barang jenis tertentucontoh
ikan lele, karena jumlah penjual banyak dimana masing-masing menawarkan sebagian
kecil saja dari suplai total, maka tidak ada penjual atau pembeli yang seorang
diri mempengaruhi harga, bila jumlah penjual dan pembeli yang bertemu di pasar
banyak dan terdapat koordinasi yang baik diantara mereka, untuk satu macam
barang akan terjadi satu harga. Yaitu harga pasar.
Harga Keseimbangan
Untuk mengerti bagaimana permintaan
dan penawaran bersama-sama menentukan harga pasar, sebagai contoh kita pelajari
terbentuknya harga gula kelapa. Dalam masyarakat kita gula kelapa banyak
pembelinya dan juga banyak produsen/penjualnya(= bentuk pasar persaingan).
Dalam tabel di bawah mi dikumpulkan
hasil pengamatan pasar, yaitu berapa kg gula kelapa yang mau dibel i (Q1) dan
berapa kg yang mau dij ual (Q) pada berbagai harga(di daerah tertentu dan dalam
jangka waktu tertentu, misalnya satu minggu atau satu bulan).
Perlu diingat :
1. Rumus UmumFungsiPermintaanadalah
:
P = a – mQ
Misalnya : P = 80 – 0,5 Q
2. Rumus UmumFungsiPenawaranadalah :
P = a + mQ
Misalnya : P = 20 + 0,5 Q
3.Rumus UmumHarga Keseimbanganadalah
:
Qs = Qd
20 + 0,5 Q = 80 – 0,5 Q
ELASTISITAS
> PENGERTIAN ELASTISITAS
Kurve permintaan dan penawaran
memperlihatkan bagaimana reaksi pembeli dan penjual (dalam hal
banyak-sedikitnya jumlah yang mau dibeli atau dijual) terhadap perubahan harga.
Dalam masalah reaksi ini dipertanyakan lebih lanjut: berapa besarnya perubahan
harga dan berapa besarnya reaksi tsb. Sehingga para para ahli ekonomi
memberikan pengertian “ elastisitas permintaan dan penawaran “
ELASTISITAS PERMINTAAN
Inti pengertian permintaan adalah:
hubungan antara HARGA suatu barang dengan Jumlah yang mau dibeli. Bentuk kurve
permintaan yang turun ke kanan menunjukkan hagaimana reaksi jumlah yang mau
dibeli terhadap perubahan harga: kalau P naik, Qd Iislru berkurang, sedang kalau
P turun, Qd justru bertambah.
Tetapi reaksi konsumen tidak mesti
sama untuk pelbagai macam barang. Untuk heherapa macam barang para konsumen
sangat peka terhadap perubahan harga, artinya:
1witihahan harga yang kecil saja
sudah menyebabkan jumlah yang mau dibeli berkurang hanyak. Tetapi ada juga
barang di mana konsumen hampir tidak peka terhadap pertihahan harga: biarpun
harga naik, jumlah yang dibeli hampir tidak berkurang. Untuk iiicnyatakan
peka-tidaknya jumlah yang mau dibeli terhadap perubahan harga dipergunakan
istilah elastisitas, tepatnya elastisitas harga (price elasticity of demand).
PENGERTIAN DAN RUMUS ELASTISITAS
PERMINTAAN
Ealastisitas (harga) menunjukkan
bagaimana reaksi pembeli (dalam hal jumlah yang mau dibeli) bila ada peruhahan
harga, atau: peka-tidaknya jumluh yang man dibeli terhadap perubahan harga.
Maka agar dapat dibandingkan dua-duanya dinyatakan dalam %
Jika konsumen peka terhadap
perubahan harga suatu barang, permintaan akan barang itu disebut ELASTIS.
Artinya: perubahan harga yang kecil
menyebabkan perubahan yang relatif (lebih) hesar dalam jumlah yang diminta.
Misalnya harga naik dengan 10%. Akibatnya jumlah barang yang mau dibeli
berkurang dengan % yang lebih besar, misalnya 20%
Jika konsumen kurang peka terhadap
perubahan harga suatu barang tertentu, permintaan akan barang itu disebut
INELASTIS.
Artinya: meskipun kenaikan harga
(relatif) cukup besar. namun jumlah yang mau diheli hampir tidak berkurang;
sedang kalau harga barang turun, jumlah yang diminta hampir tidak bertamhah.
Misalnya harga turun 10% menyebabkan
pertambahan dalam jumlah yang diminta relatif lebih kecil, misalnya hanya 5%.
Hal mi terutama terjadi pada barang-barang kehutuhan hidup pokok seperti beras,
garam, dli.
Rumus elastisitas permintaan
Elaslisitas permintaan dapat diukur
dan dinyatakan dalam suatu angka yang di%chiII koelisien elastisitas.
Besar-kecilnya koefisien elastisitas permintaan dapat diIiiliiiig dengan
hantuan suatu rumus yang sederhana.
Rumus umum untuk elastisitas
permintaan adalah sbb:
Dibawah ini contoh perhitungan
koefisien elastisitas permintaan.
Sebagai contoh kita perbandingkan
permintaan akan dua macam barang, yaitu obat nyamuk dan teh hungkus.
Untuk mcmpermudah pcrbandingannya,
kedua barang tersehut digambarkan kurve permintaannya dalam satu grafik..
Kemudian kita hitung elastisitas pcrinintaan,misalnya apa yang terjadi dengan
jumlah yang diminta (Qd) kalau harga naik dariRp 200,- menjadi Rp 300,-.
Perhatikan cara kerjanya!
SISTEM HARGA
Dalam kehidupan ekonorni modern
harga-harga memainkan peranan yang amat penting, justru karena produsen dan
konsumen (termasuk dunia perbankan, pedagang ckspor-impor dan pemerintah
sendiri) bertindak atas dasar pertimbangan dan perbandingan harga.
a.NILAI DAN HARGA
Para ahli filsafat telah memikirkan
persoalan harga dan nilai. Karena pada waktu itu uang helum begitu berperanan,
yang diutamakan adalah pengertian Nilai barang.
ARISTOTELES (384-322 seb.M.) pada
tahun 300 sebelum Masehi telah membahas masalah ini, Menurut Aristoteles suatu
barang mempunyai nilai karena berguna untuk yang memilikinya (= Nilai pakai),
atau karena barang tsb. dapat dipertukarkan dengan barang lain (= Nilai tukar).
Jenis-jenis nilai mi masih dapat dibedakan obyektif dan subyektif.
Nilai pakal (Value in use atau
Utility) adalah kemampuan suatu barang untuk dapat memenuhi suatu kebutuhan
manusia.
1.Nilai pakai obyektif = kemampuan
atau sifat barang untuk dapat memenuhi
suatu kebutuhan manusia, jadi kegunaan atau faedah barang.
2.Nilai pakai subyektif = penilaian
yang diberikan seseorang terhadap suatu barang karena kemampuan barang tsb.
dalam memenuhi kebutuhannya. Pcnilaian subyektif mi dapat sangat berbeda-beda
menurut situasi dan kondisi, seperti mendesaknya kebutuhan seseorang dan jumlah
barang yang tersedia.
Nilai tukar (Value in exchange)
adalah kemampuan suatu barang untuk dilukarkan dengan barang lain di pasar.
a.Nilai tukar obyektif = kemampuan
suatu barang untuk dipertukarkan dengan barang lain.
b.Nilai tukar subyektif = penilaian
yang diberikan seseorang bila barang tsb. akan ditukarnya dengan barang lain.
Harga suatu barang adalah nilai
(tukar) barang tsb. dinyatakan atau diukur dengan uang. Jadi antara nilai dan
harga tidak sama: Nilai (tukar) suatu barang diukur dengan membandingkannya
dengan barang lain. Sedang harga diukur dengan uang. Nilai suatu barang adalah
dasar untuk penentuan harga barang tsb.
Pada abad pertengahan masalah harga
terutama disoroti dan segi moral baik-buruk, halal dan haram. Yang dipersoalkan
adalah apakah harga suatu barang itu “adil” (wajar/pantas = just price). Karena
harga yang diminta oleh produsen penjual barang tertentu ikut mempengaruhi
kesejahteraan pembeli atau masyarakat, perlu dijaga jangan sampai orang mencari
keuntungan dengan memeras sesamanya yang miskin. Hal ini khususnya berlaku
untuk pinjam-meminjam uang dengan bunga yang tinggi.
Sementara itu kaum klasik
mempersoalkan faktor apa yang penentuan tinggi rendahnya harga suatu barang
Meskipun jelas bagi mereka bahwa suatu barang tidak akan diproduksikan kalau
barang tsb. tidak berguna bagi konsumen, tetapi perhatian mereka dipusatkan
pada segi biaya produksi.
Biaya produksi sebagai dasar harga dan nilai: Teori
nilai obyektif
ADAM SMITH (1723-1790) menegaskan bahwa nilai (= nilai
tukar atau harga) suatu barang diteniukan oleh biaya produksinya. Dalam
masyarakat yang masih sangat sederhana, nilai tukar atau harga suatu harang
terutama ditentukan oleh banyak-sedikitnya kerja manusia yang telah dicurahkan
untuk menghasilkan barang tsb. Tetapi dalam masyarakat yang sudah lebih maju,
biaya-biayaproduksi lain harus ikut diperhitungkan pula, yaitu upah tenaga
kerja, biaya bahan-hahan. sewa tanah. bunga modal dan laba pengusaha.
DAVID RICARDO (1772-1823) membatasi biaya produksi hanya
pada tenaga kerja nianusia saja. Jadi harga suatu harang tergantung dan
banyak-sedikitnyakerja manusia yang telah dicurahkan dalarn produksi barang
tsb. Ia membedakan antara barang seni dan barang biasa. Nilai harang seni
memang ditentukan oleh banyaknya pengaguran barang seni tsb.: makin banyak
penggernarnya, makin tinggi nilai dan harganya, karena harang seni tidak dapat
diperbanyak. Lain halnya dengan barang biasa yang dapat diproduksi dalarnjumlah
yang banyak. Teorinya dikenal dengan nama teori nilai kerja.
Contoh:
Andaikan kita dapat mengukur berapa jumlah
jam kerja yang diperlukan untuk produksi agung, beras dan pakaian (kain ).
Angka—angka di hawah mi hanya sebagai misal saja:
Produk Jumlah jam kerja yg
diperlukan
Jagung (kg) 20
Beras (kg) 10
Kain (meter) 80
Menurut teori ini, jagung dan beras
akan dipertukarkan dengan perbandingan 2 kg jagung untuk 1 kg beras. Satu meter
kain dapat dijual dengan “harga” 4kg jagung atau 2kg beras. Satu kg beras cukup
untuk membayar ½meter kain. Satu kg jagung dapat ditukar dengan ½ kg beras atau
74 meter kain.
Cara berpikir seperti ini memang
masuk di akal pada jaman itu. Karena pada waktu itu tenaga kerja adalah faktor
produksi yang utama, peralatan produksi masih serba primitif. dan kehutuhan
masyarakat rnasih terbatas pada kebutuhan dasar sandang, pangan dan papan. Lagi
pula penggunaan baang masih sangat terhatas. Dalam keadaan seperti itu
barang-barang dipertukarkan dengan harga sesuai dengan biaya produksinya.
KARL MARX (1818-1883) mengambil alih
teori Ricardo tsh., tetapi
lebih diperseinpitlagi. Menurut Marx tenaga kerja merupakan satu-satunya sumher
nilai. Nilai dan harga setiap barang ditentukan oleh jumlah kerja (rata-rata)
yang telah dicurahkan dalam proses produksinya. Dan itu Marx menarik
kesimpulan, hahwa laba (selisih antara harga jual suatu barang dan biaya
produksinya, atau yang disebutnya “nilai lebih”)
HENRY CAREY (1793-1879) memperbaiki teori nilai biaya
produksi dengan mtnunjukkan hahwa yang penting sebenarnya bukan biaya-biaya
yang telah dikeluarkati (= harga histonis). melainkan biaya-biaya yang penlu
untuk rnenghasilkan kembali harang yang sama (= biaya reproduksi).
Teori-teori di atas dikenal dengan
nama teori nilai obyektif.
Kelemahan teori tsb adalah bahwa
hendak menjelaskan terjadinya nilai dan dari satu segi saja, yaitu dan segi
biaya produksi atau dan segi produsen saja.
Memang, biaya produksi itu penting
dalam penentuan harga jual oleh produsen. tetapi nilai dan harga tidak hanya
tergantung dan produsen saja! Sebenarnya mereka pun tahu bahwa kehutuhan dan
selera konsumen pentingjuga. Kalau begitu. mengapa mereka membatasi hanya pada
segi hiaya saja. Sementara itusegi kegunaan barang sama sekali diabaikan.
Makro Ekonomi
Ekonomi Makro adalah cabang yang mempelajari “jumlah total kegiatan
ekonomi, berhubungan dengan masalah pertumbuhan, inflasi, pengangguran,
kebijakan nasional ekonomi yang berasal dari inisiatif pemerintah (misalnya
perubahan tingkat pajak, dll). Sebagai contoh, makroekonomi akan melihat
bagaimana peningkatan / penurunan ekspor bersih akan mempengaruhi jumlah devisa
suatu bangsa atau bagaimana GDP akan dipengaruhi oleh tingkat pengangguran.
Pendekatan Ekonomi Makro, mengkaji kegiatan ekonomi secara keseluruhan, secara
agreget. Misalnya melihat keseluruhan konsumsi, produksi, maupun pendistribusian
pendapatan dalam suatu negara, atau suatu daerah tertentu. Kalau misalnya
melihat sebuah hutan, maka yang diperhatikan ialah hutan sebagai suatu kesatuan
dengan segala bentuk, maupun fungsinya yang menyeluruh. Jadi ekonomi makro
melihat tingkah laku perekonomian secara keseluruhan. Unit-unit Ekonomi Makro meliputi:
1) Rumah tangga atau keluarga, yang berfungsi sebagai: konsumen, sebagai
penabung atau penghutang, penyedia SDM baik sebagai pekerja atau sebagai bibit
wirausaha/entrepreneur. 2) Dunia usaha, yang meliputi para produsen,
distributor, maupun Lembaga Keuangan, baik perbankan maupun non perbankan,
seperti: pasar modal, koperasi simpan pinjam, lembaga asuransi, lembaga
leasing, dan lainnya. 3) Pemerintah yang perannya ditentukan oleh sistem
ekonomi yang diikuti negara tersebut.
Unit-unit Ekonomi Makro meliputi: 1) Rumah tangga atau keluarga, yang
berfungsi sebagai: konsumen, sebagai penabung atau penghutang, penyedia SDM
baik sebagai pekerja atau sebagai bibit wirausaha/entrepreneur. 2) Dunia usaha,
yang meliputi para produsen, distributor, maupun Lembaga Keuangan, baik
perbankan maupun non perbankan, seperti: pasar modal, koperasi simpan pinjam,
lembaga asuransi, lembaga leasing, dan lainnya. 3) Pemerintah yang perannya
ditentukan oleh sistem ekonomi yang diikuti negara tersebut. Dalam sistem
ekonomi Liberal misalnya, pemerintah mempunyai peran terbatas dalam
perekonomian. Kerap kali hanya berperan dalam ekonomi, sebagai penanggulangan
gejolak ekonomi, atau konjungtur ekonomi.
Sifat campur tangan pemerintah bersifat anti cyclis. Dalam kondisi
normal, pemerintah tidak ikut campur tangan dalam perekonomian. Namun hal
tersebut bersifat teoritis. Artinya dalam ekonomi Liberal pun pemerintah
semakin banyak ikut campur tangan dalam perekonomian. Dalam sistem ekonomi
Pancasila, pemerintah ikut secara aktif mengatur perekonomian. Pemerintah
mengatur melalui berbagai undang-undang, disamping sebagai pelaku kebijakan.
Sebagai contoh ada:
- UU RI No. 5 Tahun 1999 tentang
Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha yang disahkan tanggal 15
Maret 1999 yang berlaku 1 tahun kemudian.
- UU RI No. 30 Tahun 2000 tentang
Rahasia Dagang
- UU RI No. 31 Tahun 2000 tentang
Desain Industri
- UU RI No. 14 Tahun 2001 tentang
Hak Paten
- UU RI No. 19 Tahun 2002 tentang
Hak Cipta
- UU RI No. 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen dst.
Secara langsung negara campur tangan dalam perekonomian melalui BUMN dan
BUMD. Peran BUMD dalam UU RI No. 19 Tahun 2003, disebutkan:
- Mendorong pertumbuhan ekonomi,
- Mengejar keuntungan,
- Melakukan perintisan usaha,
- Melakukan Public Service
Obligation (PSO), dan
- Mendorong usaha mikro, kecil
dan menengah (UMKM). Dalam perekonomian Indonesia, Koperasi diharapkan
berperan penting.
4. Problem-problem Ekonomi Makro
Untuk memperoleh gambaran garis besar perekonomian suatu negara, termasuk
Indonesia, perlu mengenal problematik yang dihadapi, yang pada umumnya hampir
sama, namun ada kekhususan problematik yang mendesak untuk dipecahkan, atau
berbeda urutan urgensinya.
Sebagai gambaran problem Ekonomi Makro yang dihadapi Indonesia, dari waktu
ke waktu yang tidak pernah selesai, diantaranya ialah problem:
- Problem kemiskinan
- Lambatnya pertumbuhan ekonomi
- Pengangguran yang besar
- Pemerataan pendapatan
- Hutang luar negeri dan dalam
negeri yang besar
- Inflasi yang relatif masih
tinggi
- Ketergantungan ekonomi pada
luar negeri yang semakin besar
- Masalah infrastruktur yang
masih sangat terbatas
- Masalah APBN dan
- Masalah lingkungan hidup,
termasuk didalamnya masalah global warming.
Contoh permasalahan ekonomi mikro misalnya masalah harga pasar, masalah
komoditas tertentu dan segala hal yang berkaitan dengan bagian kecil
perekonomian.
Untuk membahas dn mengatasi permasalahan tersebut, memerlukan pemahaman
dasar, konsep-konsep ekonomi makro, maupun teori-teorinya. Disamping itu
penting sekali siapapun yang mengkaji ekonomi makro memiliki data perekonomian
yang sedang berlangsung dari waktu ke waktu, agar ilmu yang diperoleh bukan
sekedar ilmu yang tidak bisa digunakan dalam dunia yang nyata.
Pasar pada ekonomi makro dibedakan berdasarkan jenis komoditi aggregate
yang ditransaksikan, yaitu pasar barang, pasar tenaga kerja, dan pasar uang
atau financial. Sedangkan pada ekonomi mikro pasar dibedakan menurut individu
komoditi, misalnya pasar beras, pasar jagung, pasar pakaian dan lain-lain
dengan ketiga fungsinya seperti yang diterangkan diatas. Karena ekonomi makro
berbicara pada tataran aggregate maka pasar barang adalah pasar aggregate bukan
individu komoditi seperti pada ekonomi mikro. Artinya kurva supply dan demand
pada ekonomi makro adalah kurva yang menunjukkan hubungan antara harga
aggregate dan barang aggregate. Kedua kurva ini disebut dengan Aggregate Demand
(AD) dan Aggregate Supply (AS). Dengan kata lain AD adalah penjumlahan dari fungsi
Demand induvidu konsumen. Pada ekonomi mikro hanya disebut Demand dan Supply.
Pada ekonomi makro pasar dapat juga dibedakan atas dua kutub ekstrim tetapi
berdasarkan tingkat intervensi pemerintah, yaitu pasar bebas (free market) dan
pasar yang terkontrol (controlled market). Pasar bebas adalah pasar dimana
tidak ada campur tangan pemerintah atau sangat minimal, sedangkan pasar
terkontrol sangat sarat dengan intervensi pemerintah. Pasar bebas banyak dianut
dan di promosikan oleh negara-negara Barat dan pasar terkontrol banyak dianut
oleh negara-negara sosialis dan komunis.
-Tujuan : bagaimana meningkatkan kesejahteraan
masyarakat melalui implementasi kebijakan ekonomi yang cocok untuk mengatasi
masalah tersebut. Kesejahteraan masyarakat biasanya diukur dengan menggunakan
indicator tertentu yang dapat dipakai dengan mudah dan dapat mengukur tingkat
kesejahteraan masyakarat dengan akurat. Seperti yang disebut diatas maka
indikator umum ekonomi makro yang biasa dipakai adalah tingkat pertumbuhan
ekonomi, pengangguran, dan inflasi.
Jenis-jenis Pasar
Pasar dapat dikelompokkan menjadi 5 jenis, yaitu pasar barang,
pasar tenaga kerja,
pasar modal, dan pasar luar negeri.
- Pasar
barang menggambarkan pertemuan antara permintaan dan penawaran akan barang. Sebuah
perusahaan atau individu dapat beroperasi di pasar barang dengan
menawarkan barang hasil produksi atau pula melakukan permintaan akan
produk.
- Pasar tenaga kerja merupakan pertemuan antara
permintaan dan penawaran tenaga
kerja.
Pertemuan ini akan menghasilkan konsep upah dan jumlah
tenaga kerja yang dibutuhkan. Biasanya yang melakukan permintaan adalah badan
usaha
(perusahaan), lembaga-lembaga, instasi-instasi, atau dapat juga
perseorangan, sedangkan yang melakukan penawaran tenaga kerja adalah angkatan
kerja
yang tersedia di pasar kerja.
- Pasar uang
adalah pertemuan antara permintaan dan penawaran uang. Dalam
pasar uang yang ditransaksikan adalah hak menggunakan uang untuk jangka
waktu tertentu. Di pasar uang terjadi pinjam meminjam dana, yang
selanjutnya menimbulkan hubungan utang piutang. Pihak yang
melakukan penawaran uang adalah otoritas moneter (Bank
sentral
dan pemerintah) dan lembaga keuangan (bank dan bukan
bank),
sedangkan pihak yang melakukan permintaan adalah masyarakat (rumah tangga
dan perusahaan).
- Pasar modal
dalam arti sempit identik dengan bursa
efek.
Dalam arti luas, pasar modal adalah pertemuan antara mereka yang mempunyai
dana dengan mereka yang membutuhkan dana untuk modal
usaha.
Jika pasar uang lebih memfokuskan pada penggunaan jangka pendek, maka
pasar modal lebih memfokuskan pada penggunaan jangka panjang.
- Pasar luar
negeri menggambarkan hubungan antara permintaan dalam negeri akan produk impor dan
penawaran ke luar negeri berupa produk ekspor.
Tujuan
Kebijakan Makro Ekonomi
Pengertian
Definisi
Bentuk kebijakan ekonomi yang akan diambil oleh pemerintahan suatu Negara
akan tergantung pada tujuan yang ingin dicapainya. Pada prinsipnya kebijakan
yang diambil bertujuan agar semua kegiatan perekonomian selalu dalam keadaan
yang dapat memberikan pertumbuhan ke arah positif.
Aspek-aspek yang ingin dicapai oleh penguasa pemerintahan ketika suatu
kebijakan ekonomi makro diambil adalah:
- memastikan kegiatan ekonomi
berjalan dengan rencana yang sudah diputuskan,
- meningkatkan penggunaan tenaga
kerja atau mengurangi jumlah pengangguran tanpa harus menimbulkan inflasi,
- meminimalkan dampak negatif
akibat terjadinya inflasi,
- meningkatkan pertumbuhan
ekonomi yang mapan,
- mewujudkan kestabilan neraca
pembayaran dan nilai tukar valuta asing.
Kebijakan
Agar Kegiatan Ekonomi Stabil
Pemerintahan suatu Negara akan menjaga kegiatan ekonomi berjalan dan tumbuh
dalam keadaan yang stabil. Menstabilkan perekonomian ini bertujuan untuk
menghindari terjadinya fluktuasi yang sangat besar dari waktu ke waktu.
Perekonomian suatu negara dianggap stabil jika memenuhi kriteria-kriteria
berikut:
- Tingkat pengangguran rendah,
atau penggunaan tenaga kerja tinggi.
- Tingkat inflasi atau tingkat
harga tidak menunjukkan perubahan yang berarti
- Terjadinya kesetimbangan antara
ekspor-impor dan kesetimbangan aliran modal yang masuk dan ke luar dari
dalam negeri.
Pertumbuhan ekonomi yang begitu cepat pada umumnya diikuti dengan
terjadinya inflasi yang relative tinggi. Peningkatan inflasi yang cukup tinggi
ini dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Untuk itu,
laju inflasi harus dikendalikan pada tingkat yang wajar, sehingga dampak
negatifnya tidak memberikan pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi
masa datang. Pemerintah akan menjaga pertumbuhan ekonomi tanpa menimbulkan
peningkatan inflasi yang berlebihan.
Kebijakan
Untuk Penggunaan Tenaga Kerja Penuh Tanpa Inflasi.
Salah satu ukuran keberhasilan suatu pemerintahan dalam menjalankan roda
perekonomian adalah jumlah pengangguran. Suatu negara akan mudah mencapai
Kestabilan Perekonomiannya, jika negara tersebut sudah dapat mencapai
penggunaan tenaga kerja penuh. Namun demikian, kebanyakan negara, tidak mampu
secara terus menerus untuk mempertahankan kondisi dengan penggunaan tenaga
kerja penuh. Dengan demikan akan timbul pengangguran yang disebabkan terjadinya
perubahan variable-variabel ekonomi ke arah yang lebih buruk.
Pengeluaran agregat yang rendah merupakan salah satu faktor yang
menyebabkan tingginya pengangguran. Pengambilan Kebijakan ekonomi oleh
pemerintah dengan meningkatkan pengeluaran agregat, umumnya hanya dapat
mengurangi pengangguran dalam jumlah yang terbatas, tidak sampai pada kondisi
penggunaan tenaga kerja penuh. Untuk itu, pemerintah selalu berusaha mencari
kebijakan ekonomi yang paling relavan untuk kondisi yang terjadi.
Kebijakan
Untuk Mengurangi Pengaruh Inflasi
Inflasi yang tinggi cenderung memberikan pengaruh yang negatif terhadap
perekonomian negara. Pengaruh buruk ini dapat berakibat buruk pula terhadap
tingkat kesejahteraan masyarakat dan kegiatan ekonomi secara keseluruhan.
Peningkatan Inflasi terkadang dipengaruhi oleh ketidakstabilan politik dan
ekonomi negara. Pada kondisi ini, biasanya inflasi relatif sulit dikendalikan.
Peningkatan inflasi juga dapat dipengaruhi oleh permintaan masyarakat yang
berlebihan, atau penawaran uang yang berlebihan atau terjadinya peningkatan
ongkos produksi. Untuk itu pemerintah selalu mengambil kebijakan yang pantas agar
pengaruhya tidak berkelanjutan.
Kebijakan
Agar Pertumbuhan Ekonomi Menjadi Mapan.
Terwujudnya pertumbuhan ekonomi yang mapan merupakan cita-cita suatu negara
dalam jangka panjang. Ada dua alasan penting yang menyebabkan suatu negara
harus berupaya mencapai pertumbuhan ekonomi yang mapan dalam jangka panjang.
Yang pertama adalah untuk menyediakan lapangan pekerjaan kepada tenaga kerja
yang terus menerus bertambah. Yang kedua adalah untuk meningkatkan kemakmuran
masyarakat dalam jangka panjang.
Kebijakan Untuk
Neraca Pembayaran Dan Nilai Tukar Valuta Asing
Ketidakseimbangan neraca pembayaran, terutama jika sektor impor lebih
dominan dibanding sektor ekspor dapat berakibat pada ketidakstabilan
perekonomian. Impor yang lebih dari keadaan yang semestinya dapat menimbulkan
berkurangnya cadangan mata uang asing negara. Keadaan ini dapat menimbulkan
turunnya nilai tukar mata uang negara terhadap mata uang asing.
Selain itu, Ketidakseimbangan neraca pembayaran juga dapat mengakibatkan
perubahan variabel-variabel ekonomi yang lainnya, seperti tingginya inflasi,
tingginya biaya produksi, atau daya beli mayarakat menjadi turun. Berbagai
perubahan ini justru akan mengurangi kegiatan ekonomi dalam negeri yang pada
akhirnya akan memicu terjadinya peningkatan pengangguran.
Untuk mengatasi ketimpangan neraca pembayaran, pemerintah akan mengambil
kebijakan – kebijakan yang dapat mendorong ekspor lebih banyak. Untuk menahan
terjadinya fluktuasi nilai tukar mata uang, pemerintah akan mengambil kebijakan
ekonomi yang dapat menstabilkan nilai tukar mata uang Negara di pasar valuta
asing atau di pasar keuangan.
Diposkan oleh Junaidi
Selamanya
Pengertian dari Ekonomi Makro bisa disimpulkan bahwa Ekonomi makro merupakan
bagian dari ilmu ekonomi yang mempelajari mekanisme bekerjanya perekonomian
secara keseluruhan. Dengan demikian hubungan kausal yang dipelajari dalam
ekonomi makro, pada intinya adalah hubungan antarvariabel ekonomi agregatif
(secara keseluruhan), seperti tingkat pendapatan nasional, tingkat kesempatan
kerja, pengeluaran konsumsi rumah tangga, saving (tabungan), investasi
nasional, tingkat bunga, jumlah uang yang beredar, neraca pembayaran, stok
kapital nasional, utang pemerintah, dan sebagainya.
Bentuk-bentuk kebijakan ekonomi yang akan dilakukan oleh negara sangat
tergantung pada tujuan-tujuan yang ingin dicapainya. berikut penjelasannya.
1. Tujuan-tujuan Kebijakan Ekonomi Makro
Setiap kebijakan ekonomi bertujuan untuk
mengatasi masalah-masalah ekonomi yang dihadapi. Tujuan-tujuan kebijakan
ekonomi makro dapat dibedakan kepada empat aspek berikut:
a.menstabilkan kegiatan ekonomi / price level stability.
b.mencapai tingkat penggunaan tenaga kerja penuh tanpa inflasi / high
employment level. Beberapa hal yang perlu dijelaskan berkaitan dengan
kesempatan kerja adalah peran pemerintah dalam perluasan kesempatan kerja,
pendekatan demand dan supply of labor dalam perluasan kesempatan kerja,
pemberdayaan masyarakat desa dalam upaya perluasan kesempatan kerja, human
capital sebagai upaya efektif perluasan kerja, keuangan negara dan kesempatan
kerja, kebijakan ketenagakerjaan, serikat kerja, hubungan industrial, sistem ekonomi
dan kesempatan kerja.
c. menciptakan pertumbuhan ekonomi yang teguh / long-term economic
growth. Pertumbuhan ekonomi yang ideal adalah :
(1) berlangsung terus menerus,
(2) disertai dengan terciptanya lapangan kerja,
(3) tidak merusak lingkungan,
(4) lebih tinggi daripada laju pertumbuhan penduduk,
(5) disertai dengan distribusi pendapatan yang adil,
(6) kontribusi sektoral yang merata,
(7) tidak meninggalkan sektor pertanian,
(8)kenaikannya riil,
(9) penyumbang terbesar PDB adalah warga domestik, bukan asing.
d. Kestabilan nilai tukar / exchange rate stability. Nilai tukar merupakan
nilai uang secara eksternal, yang tinggi rendahnya berdampak pada berbagai
aspek ekonomi dan sosial lainnya, misalnya :
(1) impor dan ekspor,
(2) APBN dan APBD,
(3) kesehatan dan pendidikan,
(4) transportasi,
(5) industri dalam negeri,
(6) politik,
(7) daya beli masyarakat,
(8) dunia perbankan,
(9) sektor pertanian, kelautan, peternakan, sektor properti , dan sebagainya.
-Kebijakan
Makro Ekonomi
1.Kebijakan
Fiskal yaitu kebijakan pemerintah yang
dilakukan dengan cara mengubah penerimaan dan pengeluaran negara. Atau
kebijakan pemerintah yang membuat perubahan dalam bidang per-pajakan (T) dan
pengeluaran pemerintah (G) dengan tujuan untuk mempengaruhi pengeluaran
/permintaan agregat dalam perekonomian Kebijakan ini diambil untuk menstabilkan
ekonomi, memperluas kesempatan kerja, mempertinggi pertumbuhan ekonomi, dan
keadilan dalam pemerataan pendapatan. Caranya dengan : menambah atau mengurangi
PAJAK dan SUBSIDI.
Menurut pandangan Keynes, kebijakan
fiskal (Fiscal Policy) adalah sangat penting untuk mengatasi pengangguran.
Prosesnya adalah;
a. Pengurangan pajak penghasilan → akan menambah daya beli masyarakat dan akan
meningkatkan pengeluaran agregat.
b. Peningkatan pengeluaran agregat dengan cara menaikkan pengeluaran pemerintah
untuk pembelian barang dan jasa maupun untuk menambah investasi.
c. Selanjutnya dalam masa inflasi atau ketika kegiatan ekonomi telah full
employment, langkah sebaliknya harus dilakukan yaitu ; pajak dinaikkan dan
pengeluaran pemerintah akan dikurangi.
d. Langkah ini akan menurunkan pengeluaran/permintaan agregat dan mengurangi
tekanan Inflasi.
Secara garis besar berbagai jenis pajak yang dipungut pemerintah dpt
digolongkan sebagai berikut :1. Pajak langsung : yaitu pajak/jenis pungutan
pemerintah yg.secara langsung dikumpulkan dari wajib pajak, misal ; PPh.
2. Pajak tak langsung : yaitu pajak yg.beban pemungutannya dapat
dipindah-tangankan kepada pihak lain, misal ; PPn, & PPn BM Pajak impor
dsb.
Demikian pula perubahan-perubahan sebaliknya. Pemerintah seringkali menghadapi
masalah defisit anggaran. Ada beberapa sumber pembiayaan defisit anggaran :
1. Pajak.
2. Mencetak Uang Baru.
3. Pinjaman Masyarakat Dalam Negeri.
4. Pinjaman Masyarakat Luar Negeri.
-.Kebijakan Anggaran
a. Anggaran Defisit (Defisit Budget) / Kebijakan
Fiskal Ekspansif
Anggaran defisit adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pengeluaran lebih
besar dari pemasukan negara guna memberi stimulus pada perekonomian.
b.Kebijakan Fiskal
Kontraktif
Anggaran surplus adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pemasukannya lebih
besar daripada pengeluarannya.
c. Anggaran
berimbang terjadi ketika pemerintah menetapkan pengeluaran sama besar dengan
pemasukan. Tujuan politik anggaran berimbang yakni terjadinya kepastian
anggaran serta meningkatkan disiplin
2.Kebijakan
Moneter
Kebijakan yang diambil oleh Bank Sentral untuk
MENAMBAH atau MENGURANGI jumlah uang yang beredar di masyarakat. Pengaturan
jumlah uang yang beredar pada masyarakat diatur dengan cara menambah atau
mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan
moneter dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
a. Kebijakan Moneter Ekspansif / Monetary Expansive Policy. Adalah suatu
kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang beredar.
b. Kebijakan Moneter Kontraktif / Monetary Contractive Policy Adalah suatu
kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar.
Kebijakan moneter dapat digolongkan menjadi dua,
yaitu:
a. Kebijakan Moneter Ekspansif / Monetary Expansive Policy. Adalah suatu
kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang beredar.
b. Kebijakan Moneter Kontraktif / Monetary Contractive Policy Adalah suatu
kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar. Disebut juga dengan
kebijakan uang ketat (tight money policy).
Kebijakan moneter dapat dilakukan dengan menjalankan instrumen kebijakan
moneter, yaitu antara lain :
1. Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation). Operasi pasar terbuka adalah
cara mengendalikan uang yang beredar dengan menjual atau membeli surat berharga
pemerintah (government securities). Jika ingin menambah jumlah uang beredar,
pemerintah akan membeli surat berharga pemerintah. Namun, bila ingin jumlah
uang yang beredar berkurang, maka pemerintah akan menjual surat berharga
pemerintah kepada masyarakat. Surat berharga pemerintah antara lain diantaranya
adalah SBI atau singkatan dari Sertifikat Bank Indonesia dan SBPU atau
singkatan atas Surat Berharga Pasar Uang.
2. Fasilitas Diskonto (Discount Rate). Fasilitas diskonto adalah pengaturan
jumlah uang yang beredar dengan memainkan tingkat bunga bank sentral pada bank
umum. Bank umum terkadang mengalami kekurangan uang sehingga harus meminjam ke
bank sentral. Untuk membuat jumlah uang bertambah, pemerintah menurunkan
tingkat bunga bank sentral, serta sebaliknya menaikkan tingkat bunga demi
membuat uang yang beredar berkurang.
3. Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio). Rasio cadangan wajib
adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan memainkan jumlah dana cadangan
perbankan yang harus disimpan pada pemerintah. Untuk menambah jumlah uang,
pemerintah menurunkan rasio cadangan wajib. Untuk menurunkan jumlah uang
beredar, pemerintah menaikkan rasio cadangan wajib.
4. Himbauan Moral (Moral Persuasion).Himbauan moral adalah kebijakan moneter
untuk mengatur jumlah uang beredar dengan jalan memberi himbauan kepada pelaku
ekonomi. Contohnya seperti menghimbau perbankan pemberi kredit untuk
berhati-hati dalam mengeluarkan kredit untuk mengurangi jumlah uang beredar dan
menghimbau agar bank meminjam uang lebih ke bank sentral untuk memperbanyak
jumlah uang beredar pada perekonomian.
3. Tolak Ukur Stabilitas Moneter
Setiap kebijakan
yang dilakukan oleh pemerintah harus memiliki target dan ukuran keberhasilan.
Hal ini penting, untuk mengukur atau sebagai acuan, apakah kebijakan tersebut
berhasil atau tidak. Dalam perekonomian beberapa indikator yang biasanya
digunakan untuk menilai kebijakan moneter adalah :
1. Jumlah Uang Beredar (JUB)
Dari kelima indikator tersebut, hanya JUB yang tidak dapat dimonitor dan
dirasakan lansung oleh masyarakat, sementara itu indikator nomor 2 sampai
dengan 5, relatif dapat dilihat dan dirasakan langsung oleh masyarakat. Dengan
alasan ini, berikut ini akan dijelaskan secara ringkas dari keempat indikator
tersebut
2. Laju inflasi yang cukup rendah terkendali
Bagi dunia perbankan laju inflasi yang tinggi akan menimbukan kesulitan bagi
Bank untuk mengerahkan dana masyarakat, karena dengan inflasi yang tinggi
tersebut, tingkat bunga riil (bunga nominal-inflasi) akan menurun, sehingga
mengurangi keinginan masyarakat untuk menyimpan kekayaannya dalam produk-produk
perbankan. Dampak selanjutnya adalah, bunga riil yang menurun bila dibandingkan
tingkat bunga riil di luar negeri akan memicu larinya dana masyarakat ke luar
negeri, karena dirasakan masyarakat lebih menguntungkan menyimpan dananya di
luar negeri.
3. Suku bunga pada tingkat yang wajar
Selain yang telah sering dijelaskan sebelumnya, bahwa dari sisi masyarakat
tingginya suku bunga memang akan menambah keinginan masyarakat untuk menyimpan
dananya di bank, namun di sisi lain, tingginya suku bunga tersebut akan
mengurangi niat dunia usaha untuk mengambil kredit bagi pengembangan usahanya.
Akibatnya dana yang sudah terlanjur masuk ke perbankan dengan adanya bunga
tinggi tersebut, tidak dapat tersalurkan dan menimbulkan permasalahan baru bagi
perbankan, yakni, Kemana dana masyarakat tersebut akan disalurkan ? Apabila
masalah ini tidak segera mendapat jalan keluar, maka perbankan terancam akan
menghadapi masalah likuiditas dan tentu saja masalah penghasilan dari bunga
yang seharusnya diperoleh.
4. Nilai tukar rupiah yang realistis, dan
Nilai tukar yang stabil tentu akan lebih memberi iklim kepastian bagi semua
pelaku usaha, termasuk sektor perbankan, dunia usaha dan masyarakat. Nilai
tukar rupiah yang rendah saat ini dapat dijadikan saat yang baik dunia usaha
yang berorientasi ekspor, dan ini dapat memicu peningkatan permintaan kredit
dari dunia usaha untuk melanjutkan dan meningkatkan produk ekspornya.
5. Ekspektasi/harapan masyarakat terhadap moneter
Meskipun lebih sulit untuk diukur, namun ekspektasi masyarakat mulai mendapat
perhatian besar dalam rangka pelaksanaan kebijakan moneter di Indonesia.
Ekspektasi umumnya terjadi melalui ekspektasi masyarakat terhadap tingkat
inflasi dan ekspektasi terhadap nilai tukar. Ekspektasi masyarakat yang
berlebihan terhadap besaran inflasi akan mendorong semakin tingginya
harga-harga, sehingga akan mengurangi tingkat konsumsi dan daya saing produk
dalam negeri yang akan diekspor. Sementara itu, ekspektasi masyarakat yang
negatif terhadap nilai tukar akan berdampak pada menurunnya kepercayaan
masyarakat pada mata uang rupiah, sehingga dapat memicu mengalirnya dana
masyarakat keluar negeri.
4. Strategi Kebijakan Moneter
Untuk mendapatkan indikator moneter
seperti disyaratkan di atas, pemerintah yang dalam hal ini otoritas moneter,
memerlukan strategi yang tepat dan sesuai dengan kondisi di Indonesia. Secara
umum, strategi moneter yang dapat dipilih antara lain adalah :
1. Startegi Kebijakan moneter longgar (Easy Monetary Policy) atau Strategi
kebijakan moneter ketat (Tight Monetary Policy).
Kebijakan moneter longgar akan ditempuh untuk menggiatkan kembali perekonomian yang
sedang lesu, dengan cara mempermudah dan menambah jumlah uang beredar, agar
permintaan konsumsi naik.
2. Countercyclical Monetary Policy atau Accomodative Monetary Policy
Countercyclical Monetary Policy
Untuk memperlunak konjungtur/naik turunnya perekonomian, pemerintah perlu
secara aktif malakukan intervensi di pasar uang, yakni dengan melakukan
ekspansi moneter disaat perekonomian menghadapi masa resesi dan melakukan
konstraksi moneter saat perekonomian mengalami boom/laju yang terlalu cepat.
Penjelasan ini dapat dilihat pada gambar berikut
3. Accomodatice Monetery Policy
Pendapat kedua mengatakan, bahwa sebaiknya pemerintah menghindari intervensi
untuk memperlunak konjungtur perekonomian yang terjadi, dan membiarkannya
terjadi secara alami. Pendapat ini didasarkan pada pemikiran:
a. Ekspektasi masyarakat dapat mengalahkan dampak dari variabel-variabel
moneter lainnya. Dengan kata lain, masyarakat telah mengantisipasi setiap
kebijakan yang akan diterapkan oleh masyarakat.
b. Kebijakan pemerintah tidak dapat memberi dampak secara langsung dan segera.
Sebagai contoh; kebijakan moneter longgar yang ekspansif yang diterapkan saat
ekonomi lesu/resesi, tidak akan segera kelihatan dampaknya saat itu juga, namun
butuh waktu dan itu dapat terjadi justru ketika perekonomian telah mencapai
tahap boom.
5. Efektifitas kebijakan Moneter
Yang dimaksud
dengan efektifitas kebijakan moneter adalah, sejauh mana kebijakan moneter yang
ditempuh pemerintah (apapun bentuknya), memberi dampak positif bagi perekonomian
dan masyarakat, dalam arti :
a. dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi
b. dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat
c. dapat meningkatkan kesempatan kerja
d. dapat meningkatkan penerimaan devisa negara
e. serta memberi pengaruh pada kebijakan makro lainnya
Teori yang membicarakan mengenai efektifitas kebijakan moneter ini diantaranya
adalah :
a. Teori Natural Rate Hypothesis, yang percaya bahwa kebijakan hanya akan
efektif dan memberi dampak dalam jangka pendek saja, namun tidak akan efektif
untuk jangka panjang
b. Teori Rational Expectation Hypothesis, yang percaya bahwa baik dalam jangka
pendek maupun dalam jangka panjang, kebijakan moneter tidak akan efektif untuk
memberi pemahaman yang lebih baik mengenai kedua teori tersebut, perhatikan
contoh kasus berikut ini. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, untuk
meningkatkan aktivitas ekonomi melalui peningkatan konsumsi masyarakat,
pemerintah akan menempuh kebijakan ekspansif (kebijakan moneter longgar).
3. Kebijakan Segi Penawaran
Merupakan kebijakan pendapatan (incomes policy), yaitu langkah pemerintah yang
bertujuan mengendalikan tuntutan kenaikan pendapatan kerja. Tujuan ini
dilaksanakan dengan berusaha mencegah kenaikan pendapatan yang berlebihan.
Pemerintah akan melarang tuntutan kenaikan upah yang melebihi kenaikan
produktivitas pekerja. Kebijakan seperti itu akan menghindari kenaikan biaya
produksi yang berlebihan.
Kebijakan segi penawaran lebih menekankan kepada:
a. meningkatkan kegairahan tenaga kerja untuk bekerja
b. meningkatkan usaha para pengusaha untuk mempertinggi efisiensi kegiatan
produksinya.
6. Masalah dan Kesulitan Penerapan Kebijakan Moneter diNegara Berkembang
Pemerintah (dalam hal ini Bank Sentral) harus
menggunakan kebijakan moneter untuk mempengaruhi pengeluaran swasta dan masyarakat
ke arah yang dinginkan dalam kegiatan ekonomi dan pembangunan secara
keseluruhan. Pada waktu resesi dan tingkat pengangguran tinggi, pemerintah
harus berusaha meningkatkan seluruh pengeluaran masyarakat antara lain dengan
cara meningkatkan penawaran uang dalam masyarakat. Turunnya suku tingkat bunga
menimbulkan gairah investasi yang pada akhirnya meningkatkan permintaan
agregat, dan akhirnya menurunkan tingkat harga dan menaikkan output nasional.
Kebijakan moneter yang dapat dilakukan untuk mecapai tujuan ini adalah
mengurangi tingkat cadangan minimum, menurunkan tingkat bunga dan membeli
surat-surat berharga dari masyarakat.
Pada masa inflasi dan ekonomi yang
memanas, kebijakan moneter dilakukan haruslah berjalan ke arah yang sebaliknya.
Dengan demikian, salah satu tugas dari kebijakan moneter adalah menyediakan
pertambahan penawaran uang yang cukup sehingga usaha-usaha pembangunan dapat
berjalan lancar. Pada masa terjadi kelebihan permintaan dan inflasi, penawaran
uang dalam masyarakat harus dikurangi. Dinegara-negara berkembang kebijakan ini
harus mencakup juga kebijakan untuk mempengaruhi penawaran uang tunai dalam
masyarakat, yaitu dengan berusaha menarik uang tersebut dari tangan masyarakat,
sehingga akan menurunkan tingkat pengeluarannya. Cara yang dapat ditempuh
dengan menarik uang tersebut ke dalam sistem perbankan, misalnya dengan cara
memberikan bunga yang tinggi kepada nasabah deposito berjangka.
7. Kebijakan Moneter dalam Pembangunan
Masalah dan cakupan
dalam pembahasan makroekonomi dapat digolongkan atas empat kelompok besar,
yaitu pertumbuhan ekonomi (growth), inflasi (inflation), pengangguran
(unemployment) dan necara pembayaran (balance of payment). Untuk menangani
persoalan-persoalan makroekonomi tersebut, misal ingin meningkatkan atau
mengejar pertumbuhan ekonomi pada suatu tingkat tertentu, secara teoritis dapat
didekati dengan dua cara, yaitu :
1. Demand management. Pendekatan ini dilakukan pada upaya pengendalian
makroekonomi yang bertumpu pada pengelolaan permintaan agregat atau aggregate
demand (AD), artinya demand management adalah kebijakan pengendalian
makroekonomi yang utama. Ada dua kebijakan pokok dengan pendekatan ini yaitu
kebijakan fiskal (fiscal policy) dan kebijakan moneter (monetary policy).
Kebijakan fiskal biasanya eksekusinya lambat, karena untuk
meng-implementasikannya harus melalui prosedur yang cukup panjang,misalnya
perlu pembahasan (public hearing) dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Namun
demikian, dari segi efektivitas kebijakan ini lebih ampuh. Di sisi lain,
kebijakan moneter, merupakan kebijakan yang dapat dieksekusi secara cepat atau
dapat dilakukan seketika, karena kebijakan ini dimiliki oleh otoritas moneter
dalam hal ini Bank Indonesia. Namun, seringkali pengaruh kebijakan tersebut lambat
dan tidak selalu seperti yang diharapkan dan biasanya sifatnya untuk mengatasi
masalah dalam jangka pendek atau sesaat saja.
2. Supply Management. Upaya pengendalian makroekonmi dengan pendekatan ini
sampai saat ini masih sulit dilakukan, karena menyangkut teknologi yang
sifatnya jangka panjang. Teori Keynes yang merupakan demand side dari
makroekonomi masih mendominasi kebijakan yang dipegang pada sebagian besar
negara. Apa yang terjadi dengan harga dan output (GNP) hanya mengikuti apa yang
terjadi dengan permintaan agregat. Sehingga kebijakan-kebijakan makro harus
diarahkan bagaimana mempengaruhi permintaan agregat agar pada tingkat yang
sesuai dengan yang diinginkan. Menurut dasar logika ini, penawaran agregat
(aggregat supply) dianggap seolah-olah sebagai sesuatu yang (paling tidak dalam
jangka pendek) tidak dapat dipengaruhi secara langsung, tetapi hanya secara
tidak langsung lewat permintaan agregat.
Dari uraian di atas menunjukkan bahwa pemikiran makro ekonomi Keynes dengan
demand managemant masih mendominasi dalam memecahkan persoalan-persoalan
makroekonomi.
ALAT PENGAMAT PRESTASI KEGIATAN EKONOMI
Beberapa jenis data
makroekonomi dapat digunakan untuk menilai prestasi kegiatan perekonomian pada
suatu tahun tertentu dan perubahannya dari satu periode ke periode lainnya.
Alat pengamat kegiatan suatu perekonomian yang terutama adalah:
1. Pendapatan Nasional
2. Penggunaan Tenaga Kerja Dan Pengangguran
3. Tingkat Perubahan Harga-Harga
4. Neraca Perdagangan Dan Neraca Pembayaran
PENDAPATAN NASIONAL
I. Pengertian Pendapatan Nasional
Pendapatan nasional dapat dipandang dari dua segi, yaitu dari segi earning dan
segi product.
1. Dari Segi Earning.
Gross National Income (GNI) adalah jumlah dari seluruh pendapatan, seperti
upah, sewa, bunga modal dan laba perusahaan yang telah diterima oleh seluruh
masyarakat selama menghasilkan produk nasional tersebut (biasanya selama satu
tahun).
2. Dari Segi Product
Gross National Product (GNP) adalah jumlah nilai dari barang-barang dan jasa
yang dihasilkan oleh suatu masyarakat suatu negara dalam satu tahun dihitung
menurut harga dasar.
Perbedaan GNP dan GDP:
a. GNP (Gross National Product) meliputi barang-barang dan jasa yang dihasilkan
seluruh warga masyarakat suatu negara, baik yang berada dalam negeri maupun
yang berda diluar negeri.
b. GDP (Gross Domestic Bruto) meliputi barang-barang dan jasa yang dihasilkan
suatu negara dalam wilayah negara tersebut, baik oleh perusahaan nasional
maupun perusahaan asing.
Untuk Indonesia pada saat ini pada umumnya PDB(GDP) > PNB, Karena nilai
barang dan khususnya jasa orang Indonesia yang bekerja di luar negeri pada
umumnya dihargai lebih murah dibandingkan dengan orang asing.
II. Pentingnya Menghitung Pendapatan Nasional
Beberapa peranan penting pendapatan nasional antara lain:
1. Pendapatan nasional merupakan alat pengukur bagi tinggi rendahnya tingkat
hidup atau kemakmuran suatu bangsa yang secara kuantitatif, artinya tingkat
hidup suatu bangsa atau masyarakat ditentukan oleh pendapatan perkapita.
2. Pendapatan nasional berguna untuk mengetahui struktur perekonomian suatu
negara yang bersangkutan, misalnya agraris atau industri. Disamping besarnya
peranan masing-masing sektor tersebut dalam pembentukan pendapatan nasional.
3. Pendapatan nasional berguna untuk mengetahui dan memperbandingkan kegiatan
ekonomi masyarakat itu sendiri dari tahun ke tahun.
III. Cara Menghitung Pendapatan Nasional
Beberapa kesulitan yang sering dihadapi pada waktu akan melakukan perhitungan
dan penjumlahan pendapatan nasional adalah:
1. Kurang lengkapnya statistik dari berbagai sektor kegiatan ekonomi.
2. Suatu kesalahan yang mudah terjadi pada saat melakukan perhitungan adalah
timbulnya perhitungan dobel (double accounting).
Agar tidak terjadi perhitungan dobel, maka didalam menghitung besarnya GNP,
perhitungan nilai barang didasarkan pada:
1. Final Product atau hasil akhir, yaitu jumlah barang yang diproduksi dalam
bentuk barang jadi dalam waktu satu periode.
2. Value added, yaitu nilai yang ditambahkan.
Dalam menghitung pendapatan nasional dapat digunakan tiga metode pendekatan
yaitu:
1. Metode Produksi (Production Approach)
Pendapatan nasional diperoleh dengan cara menghitung semua nilai produksi
barang dan jasa yang dihasilkan oleh semua sektor kegiatan ekonomi. Atau dapat
juga dengan cara menjumlahkan secara total seluruh nilai tambah (Value added)
dari semua sektor kegiatan ekonomi.
2. Metode Pendapatan (Income Approach)
Pendapatan nasional diperoleh dengan cara menjumlahkan pendapatan seluruh warga
masyarakat yang berasal dari faktor-faktor produksi yang digunakan dalam proses
produksi, yaitu sewa, upah, bunga dan profit.
Metode pendapatan digunakan untuk menghitung balas jasa yang diterima oleh
masyarakat selama satu tahun. Hasil penghitungannya disebut Pendapatan Nasional
(Yearly Income, dilambangkan dengan Y). Pendapatan Nasional adalah total nilai
balas jasa yang diterima oleh masyarakat suatu negara dalam satu tahun.
Pendapatan masyarakat terdiri dari:
a. Tenaga kerja memperoleh balas jasa berupa upah/gaji (w = wage)
b. Modal memperoleh balas jasa berupa bunga (i = interest)
c. Tanah dan SDA memperoleh balas jasa berupa sewa (r = rent)
d. Pengusaha memperoleh balas jasa berupa laba (p = profit)
e. Penghasilan campuran (mixed income) yang merupakan gabungan dari upah/gaji,
bunga, sewa, dan laba.
yang persamaan secara matematis adalah sebagai berikut
Hasil perhitungan dengan menggunakan metode atau pendekatan pendapatan sering
disebut dinamakan pendapatan nasional atau PN (national income),
Rumus PN :
Pendapatan Nasional = Pendapatan Nasional Neto - Pajak Tidak Langsung + Subsidi
3. Metode Pengeluaran (Expenditure Approach)
Pendapatan nasional diperoleh dengan cara menjumlahkan pengeluaran yang
dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat, yaitu konsumsi rumah tangga,
investation domestic bruto, pengeluaran pemerintah, dan ekspor bersih.
Metode pengeluaran atau pembelanjaan digunakan untuk menghitung pengeluaran
atau pembelanjaan masyarakat selama satu tahun. Hasil penghitungannya disebut
Pembelanjaan Nasional (National Spending). Pembelanjaan Nasional adalah total
pembelanjaan masyarakat suatu negara selama satu tahun. Pengertian masyarakat
disini menunjuk pada para pelaku ekonomi. Para pelaku ekonomi terdiri dari:
a. Pengeluaran para konsumen disebut konsumsi (C = Consumption)
b. Pengeluaran para produsen disebut investasi (I = Investment)
c. Pengeluaran pemerintah disebut pembelanjaan pemerintah (G = Governtmen
Expenditure)
4. Pengeluaran masyarakat luar negeri disebut ekspor netto (Xn = Net Export),
selisih antara ekspor (X = Export dan impor (M = Import).
Jadi pembelanjaan nasional terdiri dari
Hasil perhitungan dengan menggunakan metode ini dinamakan dengan
produk nasional bruto atau PNB (gross national product).
Rumusnya adalah
PDB = C + G + I + ( X - M ) atau
Produk Domestik Bruto = pengeluaran rumah tangga + pengeluaran pemerintah +
pengeluaran investasi + ( ekspor - impor )
IV. KOMPONEN-KOMPONEN PENDAPATAN NASIONAL
Komponen-komponen Pendapatan Nasional merangkai hubungan antara ketiga metode
atau pendekatan Pendapatan Nasional. Komponen-komponen Pendapatan Nasional
yaitu:
1. PDB (GDP).
PDB (Produk Domestik Bruto) atau GDP (Gross Domestic Product) merupakan nilai
total barang dan jasa yang diproduksi oleh masyarakat selama satu tahun. Atau
hasil output produksi dalam suatu perekonomian dengan tidak memperhitungkan
pemilik faktor produksi dan hanya menghitung total produksi dalam suatu
perekonomian saja.
Rumusnya adalah
PDB = C + G + I + ( X - M )
atau produk domestik bruto = pengeluaran rumah tangga + pengeluaran pemerintah
+ pengeluaran investasi + ( ekspor - impor )
2. PNB (GNP).
Produk Nasional Bruto adalah hasil produksi dalam suatu wilayah yang telah
dikurangi hasil faktor produksi yang pemiliknya bukan berasal dari dalam
perekonomian serta ditambah nilai faktor produksi dari dalam perekonomian yang
berada di luar daerah perekonomian.
PNB (Produk Nasional Bruto) atau GNP (Gross National Product) diperoleh dengan
cara:
Produk Nasional Bruto = PDB + hasil faktor produksi milik domestik yang ada di
luar negeri - hasil output faktor produksi milik luar negeri yang ada di dalam
negeri
3. PNN (NNP).
Pengertian Produk Nasional Netto adalah produk nasioanl yang memperhitungkan
pengeluaran investasi neto dengan mengurangi investasi bruto dengan depresiasi.
PNN (Produk Nasional Netto) atau NNP (Net National Product) dihitung dengan
cara:
PNB -Depresiasi atau penyusutan.
Atau: Produk Nasional Netto = Produk Nasional Bruto - Depresiasi
4. PN (NI).
Pendapatan Nasional merupakan pendapatan yang memperhitungkan balas jasa atas
faktor produksi dengan mengurangi produk nasional neto dengan pajak tidak
langsung dan ditambah dengan subsidi .PN (Pendapatan Nasional) atau NI
(National Income) dihitung dengan cara:
PNB - Pajak Tidak Langsung (Ti = Indirect Tax).
Atau Pendapatan Nasional = Pendapatan Nasional Neto - Pajak Tidak Langsung +
Subsidi
5. PI. Yrtk = PN - (Cadangan + Pajak Usaha). Hasilnya disebut Pendapatan
Perseorangan (PI = Personal Income atau Yrtk).
6. Pendapatan Disposable (Yd).
Pengertian Pendapatan Personal Disposable adalah penghasilan individu dalam
suatu perekonomian yang bersih dan sudah bisa dibelanjakan secara keseluruhan
setelah pendapatan nasional dikurangi dengan pajak penghasilan perseorangan.
Yrtk dikurangi dengan pajak Pribadi dan ditambah dengan Pembayaran Transfer (Tr
= Transfer Payment) dari pemerintah, hasilnya disebut Pendapatan Disposabel.
Pendapatan disposabel akan digunakan untuk konsumsi (C = Consumption) dan
ditabung (S = Saving). Yd = C + S
-Keterkaitan
antara tujuan-tujuan ekonomi
Perekonomian terbuka / perekonomian empat sektor
merupakan suatu negara yang mempunyai hubungan ekonomi dengan negara – negara
lain. Dalam perekonomian terbuka sebagian produksi dalam negeri diekspor atau
dijual ke luar negeri dan disamping itu terdapat pula barang di negara itu yang
diimpor dari negara – negara lain. Perekonomian terbuka dinamakan juga sebagai
ekonomi empat sektor, yaitu suatu ekonomi yang dibedakan kepada empat sektor
yaitu :
1. Sektor Rumah Tangga
(Households Sector), yang terdiri atas sekumpulan individu yg dianggap homogen
& identik.
2. Sektor Perusahaan (Firms
Sector), yang terdiri atas sekumpulan perusahaan yang memproduksi brg &
jasa.
3. Sektor Pemerintah (Government
Sector), yang memiliki kewenangan politik untuk mengatur kegiatan masyarakat
& perusahaan.
4. Sektor Luar Negeri
( Foreign Sector), yaitu sektor perekonomian dunia, dimana perekonomian
melakukan transaksi ekspor-impor.
1. Rumah Tangga
Hubungan Rumah
Tangga dengan Perusahaan
Pada awalnya rumah tangga menjual SDM
yang dimilikinya kepada perusahaan. Dari interaksi antara rumah tangga dan
perusahaan dipertemukan pada Pasar tenaga kerja. Kemudian dari penjualan SDM
tersebut, rumah tangga mendapatan penghasilan yang terdiri dari sewa, bunga,
upah dan profit. Hal ini dipertemukan dalam pasar uang & lembaga keungan.
Hubungan Rumah
Tangga dengan Pemerintah
Dalam hubungan ini rumah tangga
menyetorkan sejumah uang sebagai pajak kepada pemerintah dan rumah tangga
menerima penerimaan berupa gaji, bunga, penghasilan non balas jasa dari
pemerintah (berupa hasil dari pajak).
Hubungan Rumah
Tangga dengan negara lain
Untuk mencapai hubungan dengan negara
lain rumah tangga harus melewati pasar barang dan pasar luar negeri. Rumah
tangga mengimpor barang dan jasa dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan
hidup.
2. Perusahaan
Perusahaan merupakan gabungan unit
kegiatan yang menghasilkan produk barang dan jasa.
Hubungan Perusahaan dengan Rumah Tangga
perusahaan menghasilkan produk-produk
berupa barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat. Lalu Perusahaan
mendapatkan penghasilan dari penjualan produknya.
Hubungan Perusahaan dengan Pemerintah
Perusahaan membayar pajak kepada
pemerintah dan perusahaan menjual produk dan jasa kepada pemerintah melalui
pasar barang.
Hubungan Perusahaan dengan Dunia Internasional
Perusahaan melakukan impor atas produk
barang maupun jasa dari luar negeri melalui pasar barang dan pasar luar negeri.
Dari hasil penjulan tersebut perusahaan mendapatkan laba/keuntungan.
3. Pemerintah
Bertindak sebagai
pembuat dan pengatur kebijakan masyarakat dan bisnis.
Hubungan Pemerintah dengan RumahTangga
pemerintah menerima setoran pajak rumah
tangga untuk kebutuhan operasional, pembangunan, dan lain-lain untuk membangun
negara.
Hubungan Pemerintah dengan Perusahaan
pemerintah mendapatkan penerimaan pajak
dari perusahaan dan pemerintah juga membeli produk dari perusahaan berdasarkan
dana anggaran belanja yang ada.
4. Negara-negara lain
Hubungan Negara Lain dengan Rumah tangga
Negara-negara lain(dunia internasional)
menyediakan barang dan jasa untuk kepentingan rumah tangga yang dilakukan di
pasar luar negeri, dari pasar luar negeri masuk ke dalam pasar barang dalam
negeri sehingga produk yang dihasilkan dapat dibeli oleh rumah tangga. Sehingga
dari transaksi jual beli tersebut negara lain mendapatkan laba/keuntungan.
Hubungan Negara Lain dengan Perusahaan
dunia internasional(negara lain)
mengekspor produknya kepada bisnis-bisnis perusahaan. Aliran barang dan jasanya
juga melalui pasar negeri lalu masuk ke pasar barang. Dari proses tersebut juga
dihasilkannya suatu laba.